KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Bank Pan Indonesia Tbk pada perdagangan sesi pertama hari ini, Senin (3/9), kembali melonjak. Harga saham emiten bersandi saham PNBN tersebut sempat menyentuh level Rp 900 per saham pada pukul 11.32 WIB, atau naik 5,88% dari penutupan perdagangan akhir pekan lalu (31/8) di posisi Rp 850 per saham. Agresifitas pergerakan harga saham PNBN sejatinya sudah mulai terjadi sejak 14 Agustus lalu saat harga saham ini masih berada di posisi Rp 730 per saham. KONTAN mendapati sejumlah isu yang menjadi bahan bakar kenaikkan harga saham PNBN. Isu
pertama adalah rencana penjualan saham anak usaha PNBN, PT Verena Multi Finance Tbk (VRNA) kepada IBJ Leasing Co. Ltd. yang terangkum dalam keterbukaan informasi manajemen PNBN kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 31 Agustus 2018. IBJ Leasing merupakan perusahaan pembiayaan asal Jepang.
PNBN dan IBJ Leasing telah menandatangani kesepakatan bertajuk umbrella agreement. Pada kesepakatan ini, kelak VRNA akan menerbitkan saham baru (
rights issue) yang akan dieksekusi oleh IBJ Leasing dari beberapa pemegang saham VRNA. Selain itu, IBJ Leasing juga akan bertindak sebagai pembeli siaga dalam
rights issue yang bakal digelar VRNA. Pasca
rights issue, kepemilikan PNBN pada saham VRNA bakal terdilusi menjadi 26,15% dari sebelumnya 57,54%. Dana
rights issue tersebut akan dipergunakan VRNA guna membeli 80% saham PT IBJ Verena Finance (IBJV), yang merupakan perusahaan
joint venture antara VRNA dan IBJ Leasing. Adapun isu
kedua adalah terkait kabar ketertarikan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membeli saham PNBN. Pada Senin (20/8) seorang bankir yang enggan disebut namanya bercerita kepada Kontan.co.id bahwa dirinya mendapat informasi BCA berniat membeli saham PNBN. Kala itu, dia mengatakan PT Panin Financial Tbk (PNLF) yang akan melepas sebagian saham PNBN kepada BCA. Kabar ini muncul lantaran sang pendiri grup Panin, Mukmin Ali Gunawan kabarnya ingin mencari rekan bisnis yang kelak bisa mengurus PNBN di masa datang. "Anak-anaknya pak Mukmin Ali kabarnya tidak terlalu suka kelola perbankan. Bila diurus BCA, value naik, happy semua," ucapnya. Bantahan pun dilontarkan pihak BCA dan PNBN saat KONTAN mengklarifikasi kabar tersebut. "Maaf, tidak benar sama sekali. Saya belum pernah bertemu dengan pak Mukmin untuk bicara hal tersebut," tutur Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, kepada KONTAN, Selasa (28/8). Bantahan juga diungkapkan Roosniati Salihin, Wakil Direktur Utama PNBN. "Maaf, mungkin kabar itu tidak berdasar karena BCA sudah merupakan bank besar," kata Roosniati, Jumat (31/8). Roosniati menambahkan, dirinya tidak pernah mendengar kabar itu. Sebagai sesama bank publik, lanjut Roosniati, tidak semudah itu melakukan akuisisi. Seorang sumber KONTAN lainnya menjelaskan, kemungkinan saham PNBN yang hendal dibeli BCA bukan milik Mukmin Ali, namun milik Australian & New Zealand Banking (ANZ). "ANZ kabarnya menawarkan sahamnya di PNBN kepada BCA," bisik sumber KONTAN, Senin (3/9). Sekadar mengingatkan, rencana penjualan saham PNBN oleh ANZ memang sudah lama menjadi perbincangan publik. Masih hangat ketika April lalu, nama Korea Development Bank (KDB) mencuat sebagai calon pembeli saham PNBN milik ANZ. Namun transaksi itu tak kunjung tuntas karena tidak ada kesepahaman mengenai porsi kursi direksi yang bisa dipegang oleh KDB sebagai calon investor.
Hingga 30 Juni 2018, kepemilikan ANZ pada saham PNBN melalui Votraint No. 1103 Pty Ltd tercatat sebanyak 38,82%. Sedangkan PNLF mendekap 46,04% saham PNBN. Sementara investor publik, mendekap sisa saham PNBN sebanyak 15,04%. Dari sisi ranking jumlah aset hingga akhir paruh pertama 2018, PNBN menempati posisi ketujuh di Indonesia dengan kepemilikan aset senilai Rp 207,21 triliun. Sementara BCA berada di posisi ketiga, dengan total aset senilai Rp 791,73 triliun. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) masih menjadi bank pemilik aset terbesar di Indonesia senilai Rp 1.155,55 triliun. Adapun dari sisi kapitalisasi pasar, nilai kapitalisasi pasar saham BCA saat ini mencapai Rp 607,74 triliun dan berada pada ranking pertama dibandingkan perbankan di Indonesia lainnya. Ranking kedua kapitalisasi pasar perbankan ditempati PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan nilai Rp 392,24 triliun. Sementara nilai kapitalisasi pasar PNBN saat ini tercatat berjumlah Rp 21,68 triliun. Secara kasar, siapapun yang berminat mencaplok 38,82% saham PNBN milik ANZ, dia setidaknya harus menyediakan dana jumbo dikisaran Rp 8,42 triliun. Bagi BCA yang hingga paruh pertama 2018 membukukan posisi kas Rp 21,70 triliun, persoalan dana tentu bukan menjadi penghambat bila memang benar ingin mencaplok saham PNBN.