JAKARTA. Bank pembangunan daerah (BPD) identik sebagai bank penyimpan dana pemerintah daerah (pemda). Alhasil, saat dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ditarik untuk pembangunan proyek, likuiditas di BPD mengetat. Contohnya, Bank Bengkulu yang mengalami masalah likuiditas akhir tahun lalu. Kala itu, dana simpanan pemda di Bank Bengkulu merosot. Padahal, saat itu permintaan kredit cenderung meningkat. Ini terlihat dari loan to deposit ratio (LDR) Bank Bengkulu yang di atas 100%. Direktur Utama Bank Bengkulu Wimran Is Maun berkisah, simpanan pemerintah daerah saat itu turun di bawah Rp 1 triliun. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya APBD yang tersimpan di brankas Bank Bengkulu pada akhir tahun selalu di atas Rp 1 triliun.
Bank Bengkulu Jual Aset Kredit
JAKARTA. Bank pembangunan daerah (BPD) identik sebagai bank penyimpan dana pemerintah daerah (pemda). Alhasil, saat dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ditarik untuk pembangunan proyek, likuiditas di BPD mengetat. Contohnya, Bank Bengkulu yang mengalami masalah likuiditas akhir tahun lalu. Kala itu, dana simpanan pemda di Bank Bengkulu merosot. Padahal, saat itu permintaan kredit cenderung meningkat. Ini terlihat dari loan to deposit ratio (LDR) Bank Bengkulu yang di atas 100%. Direktur Utama Bank Bengkulu Wimran Is Maun berkisah, simpanan pemerintah daerah saat itu turun di bawah Rp 1 triliun. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya APBD yang tersimpan di brankas Bank Bengkulu pada akhir tahun selalu di atas Rp 1 triliun.