KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank berkapitalisasi jumbo atau big banks kompak melakukan pembelian kembali (buyback) saham di tengah tekanan harga yang terjadi sejak beberapa pekan lalu. Analis menilai tindakan buyback sebagai sinyal dari pihak bank yang ingin mulai mendongkrak harga. Big banks yang ingin melakukan buyback saham tersebut diantaranya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Mandiri Tbk (Bank Mandiri), dan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dalam sepekan terakhir, BCA dan BNI masing-masing mengumumkan akan melakukan
buyback melalui persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). BCA akan melakukan buyback senilai Rp 5 triliun, sedangkan BNI akan melakukan buyback senilai Rp 905 miliar. Baca Juga: OJK Atur Kantor Perwakilan Lembaga Pembiayaan Asing di Indonesia Sedangkan di akhir tahun lalu, Bank Mandiri serta BRI juga sudah mulai melakukan
buyback secara bertahap dengan masing-masing senilai Rp 1,17 triliun dan Rp 3 triliun. Sejumlah analis menilai tindakan
buyback saham yang dilakukan oleh bank blue chip ini sebagai pesan kepada para investor bahwa fundamental mereka masih kuat di tengah keterpurukan harga yang terjadi. Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyebut langkah ini efektif untuk menaikkan harga saham dalam jangka pendek. “Dengan prospek bisnisnya hingga potensi valuasi di masa mendatang, sehingga secara jangka pendek hal ini pasti mendorong harga saham tersebut untuk mengalami kenaikan,” kata Nico saat dihubungi, Jumat (13/3/2026). Kendati begitu, Nico tetap menyarankan investor untuk berhati-hati. Pasalnya, pasar saham Indonesia masih bisa terpengaruh oleh sentimen konflik geopolitik global. Meski tindakan
buyback menandakan kondisi perusahaan yang sehat, ia meminta investor untuk menunggu kepastian global. “Buyback ini sentimen yang positif, tapi ingat kita tidak bisa melawan arus, apalagi kita ada di market yang suka atau tidak suka masih sering kali didominasi oleh sentimen global,” ujarnya. Adapun Nico menyarankan pihak bank untuk melakukan
buyback secara bertahap agar harga saham nantinya tidak kembali turun dengan cepat. Sementara itu, analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya menilai tindakan
buyback juga berdampak positif untuk menjaga kualitas perusahaan dalam jangka panjang. Baca Juga: Jasindo Meyakini Lonjakan Penjualan Mobil Berpotensi Dorong Asuransi Kendaraan “Jika dilakukan pada valuasi yang relatif murah,
buyback juga dapat menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham,” kata Andrey saat dihubungi, Jumat (13/3/2026). Andrey menimbang dengan kombinasi
buyback serta dividen payout yang tetap tinggi, saham bank besar saat ini relatif lebih menarik untuk diakumulasi dibandingkan saham di sektor lainnya. Ia pun menyebut perusahaan wajar saja melakukan
buyback ketika volatilitas pasar sedang tinggi. Ini merupakan langkah yang baik untuk meredam tekanan jual. Dari sisi perbankan,
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan
buyback dilakukan untuk menjaga pengelolaan struktur permodalan serta menjaga stabilitas perdagangan saham. “Bagi investor,
buyback dapat memberikan nilai tambah melalui penguatan kepercayaan pasar terhadap kinerja dan strategi Perseroan,” kata Okki kepada Kontan, Jumat (13/3). Okki lalu memastikan pelaksanaan
buyback tidak akan memberi dampak secara material terhadap kondisi keuangan maupun kegiatan operasional BNI. Ia menilai BNI saat ini memiliki posisi permodalan dan likuiditas yang memadai. Ia mengatakan fundamental BNI masih solid untuk jangka panjang, sehingga investor tidak perlu cemas.
Saham hasil buyback nantinya akan disimpan sebagai saham tresuri (treasury stock) yang dapat dialihkan melalui penjualan kembali di Bursa Efek Indonesia (BEI) maupun di luar bursa. Saham tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk pelaksanaan Program Kepemilikan Saham bagi Pegawai dan/atau Pengurus Perseroan. Senada dengan itu, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Heryn menyebut
buyback dilakukan untuk menjaga kepercayaan pasar dan investor terhadap BCA. Baca Juga: AAJI Mencatat Total Polis Industri Asuransi Jiwa Tumbuh 9% Sepanjang 2025 “Aksi korporasi ini dilakukan dalam rangka mendukung stabilitas harga saham di BEI,” kata Hera kepada Kontan, Jumat (13/3). Hera menyebut jumlah saham yang beredar bebas (
free float) di pasar tidak akan kurang dari 7,5% dari jumlah saham tercatat. Jumlah saham yang dibeli kembali oleh BCA tidak akan lebih dari 10%. Adapun pada penutupan perdagangan saham pekan ini, seluruh saham
big banks kompak berada dalam zona merah. Penurunan terdalam selama sepekan dialami oleh BMRI, disusul BBRI, BBCA, dan BBNI. BMRI ditutup pada level harga Rp 4.750, sedangkan BBRI pada level harga Rp 3.510, BBCA pada harga Rp 6.875, dan BBNI pada harga Rp 4.240. Harga saham keempat bank besar tersebut terus tertekan sejak perdagangan beberapa minggu sebelumnya. Andrey menyebut tekanan ini disebabkan oleh melonjaknya net sell asing akibat penurunan Fitch Ratings, kondisi global, serta depresiasi rupiah akhir-akhir ini. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News