Bank bisa didiskon modal inti 50%, ini syaratnya



Bandung. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah merumuskan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang pas untuk perbankan di Indonesia. BOPO ini akan menjadi acuan regulator untuk memberikan insentif kepada perbankan berupa diskon alokasi modal inti utnuk pendirikan kantor cabang.

“Untuk insentif kemudahan membuka cabang hanya menggunakan acuan BOPO. Rasionya, antara 70%-75%,” kata Kepala Departemen Pengawas Pembangunan Dan Manajemen Krisis OJK Dhani Gunawan Idat, Sabtu (16/4). Nah, bagi bank yang memiliki rasio BOPO level terendah akan memperoleh diskon alokasi modal inti hingga 50%.

Berdasarkan data OJK per Februari 2016 urutan bank dengan BOPO terendah adalah bank pembangunan daerah (BPD) sebesar 75,08%, diikuti bank BUMN sebesar 80,75%, bank swasta devisa sebesar 85,58%, bank swasta non devisa sebesar 86,88%, bank campuran sebesar 88,17%, dan bank asing sebesar 91,69%.


Sedangkan rata-rata BOPO bank umum sebesar 84,22% per Februari 2016. Dhani bilang, rasio BOPO tersebut masih terbilang normal. Ada cara bagi bank untuk menekan BOPO seperti penggunaan teknologi informasi (TI), pemanfaatan cabang secara le, efektivitas laku pandai untuk menjaring nasabah.

Aturan ini akan terbit pada April 2016 dari rencana awal pada Maret 2016. Alasan OJK menunda penerbitan kebijakan ini karena regulator terus melakukan diskusi dengan para bankir terkait insentif yang menarik bagi mereka agar mau melakukan efisiensi.

Lanjutnya, bagi bank yang bergerak pada usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) terbilang tertarik untuk mendapatkan insentif ini karena bank yang bergerak di UMKM membutuhkan banyak jaringan untuk menjangkau pelaku usaha kecil di berbagai daerah.

Direktur Kepatuhan dan Risiko Perusahaan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Imam Budi Sarjito menuturkan, insentif diskon alokasi modal inti terbilang menguntungkan karena penghematan biaya tersebut dapat digunakan untuk penyaluran kredit.

BNI mencatat penurunan rasio BOPO sebesar 2% menjadi 68,6% per kuartal I-2016 dibandingkan posisi 70,6% per kuartal I-2015. Penurunan ini karena pendapatan operasional naik 12% menjadi Rp 9,43 triliun per kuartal I-2016 sedangkan bebank operasional sebesar Rp 4,20 triliun.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiadmadja mengatakan, buka cabang tergantung dari masing-masing bank karena setiap bank memiliki potensi yang berbeda-beda. "Buka cabang memerlukan waktu dua tahun untuk memperoleh untung. Dan bank membutuhkan biaya untuk dua tahun pertama," kata Jahja.

Bank yang terafiliasi oleh Grup Djarum ini tak gencar menambah jaringan kantor. Perusahaan hanya akan menambah 20 kantor cabang di tahun 2016 dari rencana semula pendirian 40 kantor cabang.

BCA memiliki rasio BOPO yang rendah yaitu 63,2% per Desember 2015 atau naik 1% dibandingkan posisi 62,4% per Desember 2014.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News