Bank BTN Dihadapkan Tantangan Biaya Kredit, Simak Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) memperkirakan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) masih menghadapi tantangan pada paruh kedua 2026 seiring normalisasi biaya kredit (credit cost). Meski begitu, tekanan tersebut telah tercermin pada harga saham sehingga prospek BBTN masih menarik.

Analis SSI Prasetya Gunadi mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBTN dengan target harga Rp 1.450 per saham, yang mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 18,9% dari harga penutupan Rp 1.220. 

Prasetya memperkirakan laba BTN pada semester II-2026 bakal melambat karena biaya kredit diproyeksikan kembali normal dari hanya sekitar 0,7% pada semester I-2026 menuju kisaran guidance perusahaan, yakni sebesar 1,0%–1,2%.


Baca Juga: Bank Mandiri Taspen Resmi Mengangkat Direksi Baru

Meski demikian, menurutnya valuasi saham BTN masih sangat murah. Pada estimasi price to book value (PBV) 2026 sebesar 0,3 kali, BBTN menjadi saham bank dengan valuasi terendah dalam cakupan riset SSI, jauh di bawah rata-rata sektor perbankan yang mencapai 1,8 kali.

Prasetya menilai strategi BTN memperbesar portofolio kredit pensiun dan payroll bakal menjadi penopang kinerja ke depan. Porsi kredit non-perumahan diperkirakan meningkat menjadi sekitar 22% dari total portofolio setelah akuisisi tahap kedua kredit pensiun selesai, dan ditargetkan mencapai 30% pada 2030.

Strategi tersebut, kata Prasetya, dapat meningkatkan imbal hasil aset sekitar 20 basis poin pada semester II 2026 sehingga membantu mengimbangi kenaikan biaya dana (cost of fund/CoF). Di sisi lain, rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 20% juga dinilai masih memberi ruang bagi pertumbuhan kredit.

Pada kuartal II-2026, BTN membukukan pendapatan operasional sebesar Rp 5,2 triliun, relatif stagnan dibanding kuartal sebelumnya, namun turun 19% secara tahunan. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) naik tipis 1,4% secara kuartalan menjadi Rp 4,3 triliun, sementara pendapatan nonbunga turun 7%.

Baca Juga: RI Perkuat Resiliensi Ekosistem Sistem Pembayaran Nasional di Tengah Tantangan Global

Net interest margin (NIM) menyusut menjadi sekitar 3,3% akibat kenaikan biaya dana sekitar 20 basis poin dibanding kuartal sebelumnya.

Di sisi profitabilitas, laba bersih kuartal II-2026 mencapai rekor Rp 1,3 triliun, meningkat 16,8% dibanding kuartal sebelumnya dan melonjak 61,3% secara tahunan. Sepanjang semester I-2026, laba bersih mencapai Rp 2,4 triliun atau tumbuh 40,8% secara tahunan, setara 67,6% dari proyeksi SSI dan 70,1% dari estimasi konsensus.

Kinerja tersebut ditopang oleh turunnya biaya pencadangan sebesar 43,3% secara kuartalan menjadi Rp 500 miliar, sehingga biaya kredit turun menjadi sekitar 50 basis poin.

Sementara itu, penyaluran kredit BTN tumbuh 11,2% secara tahunan menjadi Rp 418 triliun. Pertumbuhan terutama berasal dari kredit non-perumahan yang melonjak 46% setelah akuisisi portofolio kredit pensiun senilai Rp 12 triliun.

Baca Juga: OJK Temukan Entitas Ilegal yang Jalankan Usaha Menyerupai Perusahaan Pialang Asuransi

Kualitas aset juga membaik dengan rasio kredit bermasalah (NPL) turun menjadi 3,0% dan coverage ratio mencapai 139%. Adapun CAR naik menjadi 20%, meski loan to deposit ratio (LDR) meningkat menjadi 96,6%.

Untuk tahun ini, manajemen tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit 8%–10%, NIM sebesar 3,5%–3,8%, serta credit cost pada kisaran 1,0%–1,2%.

SSI memperkirakan tambahan portofolio kredit pensiun tahap kedua senilai sekitar Rp 7 triliun bakal meningkatkan imbal hasil aset sekitar 20 basis poin pada semester II 2026. “Namun, biaya dana diperkirakan juga naik ke kisaran 3,1%–3,3%,” imbuh Prasetya dalam risetnya, Kamis (6/8/2026). 

Di sisi risiko, SSI menyoroti LDR BTN yang telah mencapai 96,6% berada di atas target manajemen sebesar 94%–96%. Kondisi tersebut berpotensi mendorong bank lebih agresif menghimpun dana ketika biaya dana sedang meningkat. Selain itu, biaya operasional yang naik 9,4% sementara pendapatan turun 7,3% menunjukkan leverage operasional masih tertekan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News