Bank Butuh Dana Topang Kredit, LPS Prediksi Suku Bunga Simpanan Bakal Naik



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memprediksi suku bunga simpanan masih bakal meningkat di tengah tingginya kebutuhan pendanaan perbankan untuk mendukung pertumbuhan kredit. 

Laporan LPS menyebutkan, hingga September 2026 suku bunga simpanan rupiah secara industri masih dalam tren meningkat meski terbatas, dalam sebulan 5 bps ke level 4,25%. 

Hal itu disebut terjadi seiring kebutuhan pendanaan untuk menopang kredit yang telah melampaui penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). 


Baca Juga: BCA (BBCA) Naikkan Target Kredit 2026 Jadi 11%, Ini Pendorong Pertumbuhannya

Jika dibedah dari kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI), kenaikan suku bunga simpanan hanya terjadi di sejumlah kategori. 

Kenaikan suku bunga simpanan terjadi di KBMI 1 dan KBMI 3, masing-masing sebesar 10 bps menjadi 4,23% dan 9 bps menjadi 4,52%. Hal ini membuat rata-rata suku bunga simpanan KBMI 3 menjadi yang tertinggi di antara kategori lainnya. 

Sementara itu, suku bunga simpanan di KBMI 2 dan KBMI 4 justru turun meski tipis, masing-masing 2 bps menjadi 4,31% dan 1 bps menjadi 3,18%. Dengan ini, rata-rata suku bunga simpanan KBMI 4 menjadi yang terendah di antara kategori lainnya. 

Dari hasil ini, LPS menilai ada perbedaan kebutuhan likuiditas dan strategi pengelolaan DPK di antara kelompok bank. 

“Tekanan yang relatif lebih tinggi terjadi pada kelompok menengah dan kecil,” demikian tertulis dalam riset LPS, dikutip Jumat (6/11/2026). 

Di tengah perlambatan pertumbuhan DPK yang lebih signifikan ketimbang perlambatan yang terjadi di pertumbuhan kredit, LPS melihat tekanan persaingan suku bunga berpotensi tetap berlangsung meski secara selektif. 

Namun, trennya diprediksi masih bakal bervariasi antarkelompok bank. Bank-bank dengan kapasitas pendanaan yang lebih terbatas disebut bakal lebih terdampak. 

Di luar itu, LPS menyoroti kebijakan Bank Indonesia (BI) menurunkan giro wajib minimum (GWM) untuk perbankan. Hal itu dilihat sebagai katalis positif yang berpotensi mengurangi tekanan kebutuhan likuiditas. 

Tren peningkatan diprediksi juga terjadi pada suku bunga simpanan valuta asing (valas). Itu dipengaruhi oleh strategi penghimpunan dana valas pada sejumlah bank, transmisi stance kebijakan moneter global, serta dinamika nilai tukar dan distribusi likuiditas yang didukung oleh kebijakan devisa hasil ekspor (DHE). 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News