KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Berbeda dengan tahun lalu, awal tahun ini sejumlah perbankan terpantau mencatatkan impairment yang lebih rendah. Kendati begitu, ketidakpastian yang membayangi ekonomi saat ini tetap menjadi perhatian perbankan. Bank Mandiri mencatat beban
impairment sebesar Rp 1,08 triliun per Februari 2026, turun hingga 26,24% dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini menjadi salah satu yang mendorong naik laba bersih bank sebesar 16,71%
year-on-year (yoy) menjadi Rp 8,87 triliun. Senada, Bank Central Asia (BCA) mencatatkan penurunan beban
impairment 18,84% yoy menjadi Rp 491,11 miliar. Hanya saja, laba bersih BCA hanya tumbuh terbatas 2,81% yoy menjadi Rp 9,23 triliun.
Baca Juga: Kredit Skema Channeling Masih Jadi Andalan Bank Digital Adapun pencatatan
impairment Bank Rakyat Indonesia (BRI) turun 15,77% yoy menjadi Rp 7,54 triliun dan laba bersihnya tumbuh 17,05% yoy menjadi Rp 7,73 triliun, sementara Bank Tabungan Negara (BTN) cenderung turun menjadi Rp 680,63 miliar sehingga laba bersihnya bisa melonjak hingga 281,9% yoy menjadi Rp 503,24 miliar. Direktur Pengelolaan Risiko BTN Setiyo Wibowo bilang penurunan pencatatan
impairment di awal tahun ini didorong oleh perbaikan kualitas aset secara berkelanjutan. Ia mengaku terjadi perbaikan pada flow rate kredit ke kategori yang lebih berisiko serta penurunan level
delinquencies. Setiyo bilang perbaikan ini juga diikuti peningkatan kualitas
underwriting, penguatan monitoring portofolio secara lebih
granular, serta perbaikan strategi
collection yang lebih
proactive dan berbasis data. Namun begitu, pihaknya tetap memandang lingkungan usaha masih diwarnai ketidakpastian saat ini. Makanya, bank bakal tetap mengedepankan prinsip prudence dalam ekspansi, dengan fokus pada pertumbuhan yang berkualitas. Berbagai langkah antisipasi yang BTN lakukan di antaranya menjaga disiplin pada
risk appetite dan portfolio mix, memperkuat
early warning system untuk mendeteksi potensi penurunan kualitas sejak dini, dan meningkatkan efektivitas
collection dan
recovery. “Kami juga melakukan
stress testing secara berkala untuk memastikan ketahanan portofolio terhadap berbagai skenario makroekonomi,” ujar Setiyo saat dihubungi Kontan, Senin (30/3/2026). Di sisi lain, ada pula bank yang masih mencatatkan kenaikan beban impairment hingga Februari 2026. Di antaranya Bank Negara Indonesia (BNI) yang nilainya melonjak 51,91% yoy menjadi Rp 1,47 triliun sehingga laba bersihnya tumbuh terbatas 3,67% yoy menjadi Rp 3,41 triliun.
Baca Juga: Premi Asuransi Marine Hull MSIG Indonesia Naik 51% pada 2025 Pun, per Februari 2026 Allo Bank mencatatkan lonjakan beban impairment menjadi Rp 80,47 miliar dari Rp 23,67 miliar pada tahun sebelumnya. Dus, laba bersihnya terkoreksi 17,36% yoy menjadi Rp 68,09 miliar. Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank Ganda Rusli menyebut pada dasarnya bank mencermati dan senantiasa mempersiapkan diri atas peningkatan risiko kualitas kredit.
Risiko itu hadir sebagai dampak dari kenaikan harga kebutuhan pokok sejak akhir tahun lalu, jelang Lebaran, dan juga dampak potensi kenaikan bahan bakar minyak yang mempengaruhi inflasi dan menekan daya beli. Di samping itu, Ganda bilang bank juga melakukan pengetatan pemberian kredit baru dan juga melakukan
monitoring ketat atas kredit
existing. “Bank berupaya menjaga laba lewat sumber laba lain selain pendapatan bunga dengan mengoptimalkan
balance sheet dan juga
fee income,” pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News