Bank CIMB Niaga Bidik Pertumbuhan Kredit SME hingga 8% pada 2026



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) mencatat penyaluran kredit segmen usaha kecil dan menengah (small and medium enterprise/SME) mencapai Rp27,01 triliun pada semester I-2026. Nilai tersebut tumbuh 2,9% secara tahunan (yoy).

Head of Emerging Business Banking CIMB Niaga Tony Tardjo mengatakan, pertumbuhan kredit SME CIMB Niaga masih menghadapi tantangan sejalan dengan kondisi pasar yang relatif melambat. Meski demikian, perseroan tetap mencatatkan pertumbuhan positif.

"Kalau kita lihat data OJK, pertumbuhan SME memang masih slow. Alhamdulillah kita masih bertumbuh per Juni, kemarin kita bertumbuh 2,9% year on year. Walaupun agak slow, memang market-nya juga kelihatannya slow," ujar Tony di Jakarta, Rabu (26/8).


Baca Juga: Hingga Juni 2026, Pembiayaan UMKM Bank Sampoerna Capai Sekitar Rp6,2 Triliun

Menurut Tony, segmen SME tetap menjadi salah satu sektor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, berbagai stimulus pemerintah dinilai dapat membantu mempercepat pertumbuhan kredit SME.

"Kita senang karena pemerintah juga banyak memberikan stimulus-stimulus untuk membantu pertumbuhan SME loan. Jadi memang kita juga berusaha dari perbankan, menggunakan program-program pemerintah, dan juga kita meluncurkan program-program dari CIMB Niaga," katanya.

Tony mengatakan, CIMB Niaga juga menawarkan suku bunga yang kompetitif untuk mendorong permintaan pembiayaan dari pelaku SME. Menurut dia, tingkat suku bunga masih menjadi salah satu tantangan bagi pelaku usaha dalam mengakses kredit.

Dengan strategi tersebut, CIMB Niaga menargetkan kredit SME dapat tumbuh sekitar 7%-8% hingga akhir 2026.

Dengan posisi kredit SME sebesar Rp27,01 triliun pada semester I-2026, perseroan berharap portofolio tersebut dapat meningkat menjadi sekitar Rp28 triliun-Rp28,5 triliun pada akhir tahun.

Meski mengejar pertumbuhan, CIMB Niaga tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Tony mengatakan, kualitas kredit SME perseroan saat ini masih terjaga dengan NPL di bawah 4%.

"Kalau NPL tentunya serendah mungkin lebih baik. Saya terlalu ingin kalau bisa di bawah 3%, menurut saya itu yang secara keseluruhan untuk SME," ujarnya.

Untuk mencapai target tersebut, perseroan akan lebih selektif dalam memilih nasabah sekaligus tetap memberikan solusi bagi pelaku usaha yang menghadapi tekanan ekonomi.

Dari sisi sektor, Tony melihat bisnis perdagangan dan manufaktur skala SME masih memiliki prospek pertumbuhan yang cukup baik.

Menurutnya, sektor perdagangan terutama mencakup bisnis toko dan ritel yang banyak dijalankan oleh pelaku SME. Sementara itu, sektor manufaktur yang dimaksud merupakan industri dengan skala SME, bukan korporasi besar.

Potensi juga terlihat di berbagai daerah yang memiliki komoditas unggulan. CIMB Niaga memiliki cakupan nasabah dari Sumatera hingga Papua sehingga diversifikasi wilayah tersebut dinilai dapat membantu menjaga pertumbuhan portofolio SME.

"Kalau saya lihat memang kalau terutama di daerah yang komoditasnya pertumbuhan yang bagus, biasanya juga SME-nya cukup maju," kata Tony.

Selain kredit, CIMB Niaga juga berupaya memenuhi kebutuhan nasabah SME melalui berbagai layanan lain, mulai dari tabungan, cash management, hingga perlindungan asuransi.

Tony mengatakan kebutuhan pelaku SME tidak hanya terkait pembiayaan usaha. Pemilik bisnis juga membutuhkan solusi untuk mengelola keuangan, sementara karyawan membutuhkan berbagai produk finansial seperti pinjaman personal, KPR, hingga asuransi.

Karena itu, CIMB Niaga juga mendorong edukasi kepada nasabah mengenai pengembangan bisnis, pengelolaan arus kas, hingga perlindungan keuangan.

"Kita bukan hanya menjual produk, kita ingin juga edukasi. Itu penting, cara membesarkan bisnis, menjaga cash flow, menjaga kebutuhan pribadi, melindungi pribadi seperti asuransi," pungkas Tony.

Baca Juga: Laba BSI (BRIS) Tumbuh 11%, CGS Pertahankan Rekomendasi Tapi Target Harga Dipangkas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News