KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank DBS Indonesia memproyeksikan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) masih memiliki ruang untuk naik hingga akhir tahun 2026. Melalui kajian yang sudah dilakukan, Bank DBS memproyeksikan BI Rate akan berada pada level 6,00% pada akhir tahun 2026. Proyeksi ini menggunakan pertimbangan kondisi rupiah serta tingkat inflasi Indonesia. Head of Invesment & Insurance Product DBS Indonesia Djoko Soelistyo menyebut, Bank Indonesia (BI) sebagai Regulator kemungkinan akan menaikkan BI Rate secara perlahan.
Ia menyebut kemungkinan BI akan mengerek BI Rate ke level 5,75% pada kuartal 2-2026 dan ke level 6,00% pada kuartal 3 hingga akhir tahun 2026. Djoko mengatakan, kenaikan BI Rate tentu akan memaksa bank meningkatkan bunga kredit, di mana ini akan berdampak pada semakin mahalnya cicilan kredit nasabah. Akan tetapi, menurut Djoko, langkah menaikkan BI Rate memang terlihat paling masuk akal untuk diambil oleh BI guna menstabilkan nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Kementerian ESDM Ajak Gaikindo Uji Coba E20 Secara Langsung "Kalau suku bunga naik terlalu tinggi memang akan membebani, bukan hanya masyarakat secara umum, tapi juga bank," kata Djoko dalam media gathering DBS Indonesia, Jakarta, Kamis (18/6/2026). Mencermati proyeksi ini, Consumer Banking Director DBS Indonesia Melfrida Gultom mengatakan, banknya selalu konsisten melakukan
stress test untuk mengukur potensi bisnis dan risiko banknya. "Kita melakukan
stress test untuk melihat
risk appetite kita. Kemudian kita sesuaikan dengan segmen bisnis yang ingin kita masuki," kata Melfrida dalam acara yang sama. Melfrida pun memastikan, Bank DBS sudah siap untuk menjaga rasio kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) tetap di level yang stabil. Salah satu upayanya dengan memperkuat proses
underwriting kredit. Adapun Melfrida menyebut lini bisnis utama DBS Indonesia saat ini adalah wealth management. DBS Indonesia mendorong bisnisnya pada segmen nasabah kelas atas alias affluent.
Baca Juga: Perbanas Proyeksi BI Rate Tak Naik Lagi dalam RDG Juni 2026 Meski lebih fokus pada wealth management, Melfrida menyebut DBS Indonesia juga tetap menyalurkan kredit. Salah satunya dengan menawarkan produk kartu kredit kepada nasabah segmen affluent. "Wealth adalah strategi utama kita saat ini, tapi kita juga akan tetap memberikan kredit kepada nasabah-nasabah yang memang sudah memenuhi kriteria kita," ucapnya. Melfrida menambahkan, strategi mendorong bisnis wealth management juga dapat melandaikan biaya dana (cost of fund/COF) bank yang kemungkinan akan naik akibat BI Rate. Sebab, nasabah affluent memiliki jumlah dana likuid yang sangat besar sehingga pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) DBS Indonesia dapat terus terjaga. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News