KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Meski dana murah industri perbankan tumbuh masif tahun lalu, rupanya pendanaan bank-bank digital masih banyak didominasi oleh deposito sebagai dana mahal. Kendati begitu, bank digital optimistis pertumbuhan dana murah bisa lebih masif ke depannya. Bank Indonesia (BI) mencatat, hingga Desember 2025 giro tumbuh pesat 18,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan tabungan tumbuh 8,3% yoy. Secara total, dana murah (current account saving account/CASA) perbankan mencapai Rp 6.166 triliun, tumbuh 13,05% yoy. Sementara itu, simpanan berjangka alias deposito tumbuh lebih terbatas, yakni 5,6% yoy menjadi Rp 3.300 triliun.
Sejalan dengan itu, sejumlah bank digital terpantau berhasil mencatatkan pertumbuhan CASA yang lebih masif. Ambil contoh PT Krom Bank Indonesia Tbk. Finance Director Krom Bank, Alvin James Kurniawan mengungkapkan, tabungan dan giro berhasil tumbuh masing-masing 256% yoy dan 103% yoy hingga akhir tahun lalu. Sementara itu, deposito tumbuh 166% yoy.
Baca Juga: Rasio Nasabah Aktif Bank Digital di Bawah 50%, Ini Strategi Krom Bank dan Allo Bank Ia bilang, dominasi tabungan dalam komposisi pertumbuhan DPK tersebut utamanya didorong oleh penawaran suku bunga yang kompetitif. Memang, saat ini Krom Bank menawarkan suku bunga tabungan hingga 6% per tahun. “Preferensi masyarakat meningkat terhadap produk tabungan,” kata Alvin kepada Kontan, Kamis (19/2/2026). Meski berhasil mencetak pertumbuhan masif, Alvin melihat persaingan CASA pada 2026 ini masih bakal berlangsung ketat seiring dinamika likuiditas industri perbankan dan pergerakan suku bunga. Namun begitu, pihaknya tetap optimistis dapat menjaga pertumbuhan dana murah pada level dua digit. Itu dilakukan untuk menjaga efisiensi biaya dana serta memperkuat struktur pendanaan yang lebih berkelanjutan. Untuk mencapainya, Krom Bank bakal giat menghadirkan inovasi produk dan mengoptimalkan loyalitas nasabah eksisting sembari terus mengakuisisi nasabah baru. Tak jauh berbeda, Digital Strategy Head Allo Bank, Destya D. Pradityo bilang pertumbuhan CASA terus menjadi fokus utama bank. Meski memang, secara natural membutuhkan waktu.
Baca Juga: Persaingan Makin Ketat, Jumlah Nasabah Aktif Bank Digital Tidak Sampai 50% Pun, hingga Desember 2025 komposisi DPK bank masih didominasi deposito sebesar Rp 8 triliun, sementara tabungan dan giro masing-masing sebesar Rp 938,26 miliar dan Rp 540,59 miliar. Namun, Destya bilang struktur DPK Allo Bank saat ini perlu dilihat dalam konteks fase pertumbuhan sebagai bank digital yang masih berproses dalam penguatan fondasi neraca. Pada fase awal ekspansi, deposito berperan penting untuk menjaga stabilitas likuiditas, mengelola profil jatuh tempo dana, dan memberikan kepastian pendanaan dalam mendukung pertumbuhan aset dan kredit. “Jadi, dominasi deposito saat ini bukan berarti kami tidak mendorong dana murah, melainkan bagian dari strategi transisi menuju struktur pendanaan yang lebih seimbang dan efisien,” jelas Destya. Persaingan ke depan pun tak mudah. Destya bilang bank yang mampu menjadi rekening utama untuk transaksi sehari-hari bakal memiliki keunggulan dalam menghimpun dana murah secara berkelanjutan. Allo Bank sendiri menargetkan peningkatan porsi dana murah secara bertahap agar struktur DPK menjadi lebih optimal dan efisien. Tak cuman menargetkan pertumbuhan nominal, bank juga berupaya meningkatkan rasio CASA terhadap total DPK dan rasio total DPK terhadap total lending.
Baca Juga: Tak Sekadar Tambah Rekening, Allo Bank Fokus Genjot Aktivasi Nasabah Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News