Bank Dunia: Pendapatan Carbon Pricing Naik Jadi US$107 Miliar pada 2025



KONTAN.CO.ID - Pendapatan global dari kebijakan penetapan harga emisi karbon atau carbon pricing mencapai rekor US$107 miliar pada 2025, naik 2% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam laporan terbaru bertajuk State and Trends of Carbon Pricing 2026, World Bank menyebut peningkatan tersebut didorong semakin banyak negara yang menerapkan pajak karbon maupun sistem perdagangan emisi atau emissions trading system (ETS).

Baca Juga: Rupee India Sentuh Rekor Terendah Dekati 97 per Dolar AS


Skema ETS atau cap-and-trade memungkinkan perusahaan membeli dan menjual izin emisi karbon dalam batas tertentu guna menekan polusi dan mencapai target iklim.

Bank Dunia mencatat sekitar 30% emisi gas rumah kaca global kini telah tercakup dalam kebijakan harga karbon langsung melalui 87 kebijakan yang telah diterapkan di berbagai negara.

Sejumlah negara baru juga mulai mengimplementasikan kebijakan tersebut, termasuk India, Japan, Mauritania, Serbia, dan Vietnam.

Sementara itu, negara-negara seperti Brasil dan Turki juga tengah mengembangkan kebijakan serupa.

Jika seluruh kebijakan yang sedang disiapkan tersebut diterapkan, hampir sepertiga emisi gas rumah kaca global nantinya akan berada di bawah skema ETS atau pajak karbon.

Laporan Bank Dunia juga menunjukkan rata-rata harga karbon global meningkat dua kali lipat dalam satu dekade terakhir.

Baca Juga: Rusia dan China Kritik Proyek Golden Dome AS, Dinilai Ancam Stabilitas Dunia

Pada 2016, rata-rata harga karbon tercatat sekitar US$10 per ton karbon dioksida ekuivalen (tCO2e), sementara pada 2026 meningkat menjadi hampir US$21 per tCO2e.

Kenaikan tersebut terutama dipicu lonjakan harga dalam sistem perdagangan emisi di berbagai kawasan dunia.

Bank Dunia menilai perluasan kebijakan harga karbon menjadi salah satu instrumen penting bagi negara-negara untuk memenuhi target penurunan emisi dan transisi menuju ekonomi rendah karbon.