Bank Dunia: Perang di Ukraina akan Memperlambat Pertumbuhan Ekonomi Asia



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Laporan terbaru Bank Dunia yang dirilis Selasa (5/4) menyebutkan, perang di Ukraina akan memperlambat pertumbuhan ekonomi Asia.

Gangguan pasokan komoditas, ketegangan keuangan, dan harga yang lebih tinggi adalah beberapa faktor penyebab pertumbuhan ekonomi Asia melambat.

Bank Dunia juga memprediksikan, ada peningkatan angka kemiskinan di kawasan Asia-Pasifik tahun ini. Kondisi tersebut akan menjadi masalah baru bagi masyarakat dan ekosistem bisnis.


Dilansir dari Associated Press, Bank Dunia sebelumnya memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Asia tahun ini 5%, turun dari perkiraan awal sebesar 5,4%.

Hanya, melalui berbagai skenario yang mungkin terjadi di masa mendatang, Bank Dunia kemudian menurunkan perkiraannya menjadi 4% saja.

Sebelum perang pecah di Ukraina, kawasan ini sempat mengalami rebound ke pertumbuhan 7,2% pada 2021.

Baca Juga: Rusia Diserang Inflasi dan Penurunan Nilai Mata Uang Selama Perang

Kekuatan ekonomi terbesar di Asia, yakni China, bahkan pertumbuhannya hanya 5%. Pertumbuhan ekonomi China tahun ini jauh lebih lambat dari tahun lalu yang mencapai 8,1%.

Laporan Bank Dunia secara jelas menyebutkan, invasi Rusia ke Ukraina telah berperan dalam menaikkan harga minyak, gas, dan komoditas lainnya. 

Hal ini kemudian menekan daya beli rumahtangga, serta membebani bisnis dan pemerintah yang sudah menghadapi tingkat utang yang luar biasa tinggi akibat pandemi Covid-19.

Bank Dunia menggarisbawahi tiga hal yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi Asia. Yakni, perang, perubahan kebijakan moneter di AS dan beberapa negara lain, serta perlambatan ekonomi China.

Baca Juga: Aktivitas Pabrik di China Terkontraksi Akibat Melonjaknya Kasus Covid-19