KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah perbankan berupaya mencari dana murah untuk mengurangi Cost of Fund (CoF). Salah satunya dengan menggenjot bisnis payroll. Bank bekerja sama dengan perusahaan untuk mengelola gaji karyawan melalui rekening di bank tersebut. Jika melihat data uang beredar Bank Indonesia (BI), untuk komponen dana murah, seperti tabungan dan giro mengalami pertumbuhan masing-masing tumbuh 8,3% dan 18,6% secara tahunan atau year on year (yoy) pada Desember 2025 dengan total keduanya mencapai Rp 6.166,8 triliun. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) misalnya, dipercaya mengelola nasabah payroll sekitar 1,51 juta nasabah per Desember 2025.
Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan, nasabah payroll BSI bersumber dari berbagai institusi BUMN, PNS, ASN pada pemerintahan, kementerian, maupun sektor swasta. "Angka ini menjadi bukti bahwa tren penempatan dana di BSI semakin meningkat. Karena selain tidak ada biaya administrasi bulanan, payroll menjadi awalan afiliasi rekening untuk nasabah bisa terkoneksi dengan fasilitas pembiayaan maupun investasi lainnya seperti cicil emas, gadai emas maupun tabungan emas," ungkap Wisnu kepada kontan.co.id, Rabu (18/2/2026).
Baca Juga: Danamon dan Adira Perpanjang Bunga Spesial KPM Prima hingga Akhir Februari 2026 Posisi payroll tersebut memungkinkan BSI lebih mudah menjangkau potensi dana murah yang tumbuh 16,20% (YoY) menjadi Rp380 triliun pada 2025 lalu. Didominasi dana murah (CASA) sebesar 61,62% atau Rp234 triliun, dengan tabungan sebagai engine growth yang tumbuh 15,72% (YoY) mencapai Rp162,63 triliun. "Kami optimistis pertumbuhan tahun ini solid karena new engine BSI untuk menjadi one stop solution untuk nasabah. Mulai dari tabungan payroll, tabungan haji,tabungan Emas dan lainnya," kata Wisnu. Bank BPD DIY juga mencatat pengelolaan payroll terus bertumbuh, baik dari segmen aparatur sipil negara (ASN), swasta, maupun pensiunan. Direktur Pemasaran dan Unit Usaha Syariah BPD DIY Raden Agus Trimurjanto mengungkapkan hingga saat ini pihaknya mengelola payroll sekitar 89.000 pegawai ASN dan swasta dengan nominal bulanan mencapai Rp436 miliar. Sementara itu, payroll pensiunan tercatat sekitar 46.000 nasabah dengan nilai sekitar Rp156 miliar per bulan. “Secara total bisnis payroll kami diperkirakan masih tumbuh sekitar 6%,” ujarnya. Menurut Agus, bisnis payroll memiliki peran strategis terhadap penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), khususnya dana murah atau current account saving account (CASA). Dana payroll dinilai relatif stabil karena berasal dari dana ritel yang mengendap dan tidak terlalu sensitif terhadap perubahan suku bunga. Dana tersebut kemudian menjadi salah satu sumber likuiditas untuk menopang ekspansi kredit bank. “Kami terus mempertahankan payroll sebagai basis CASA untuk mendukung penyaluran kredit,” kata Agus. BPD DIY optimistis tren bisnis payroll masih positif. Hingga akhir tahun, pertumbuhan diproyeksikan berada di kisaran 7%–9% seiring meningkatnya kebutuhan layanan transaksi keuangan yang praktis.
Baca Juga: Catatan Net Sell Saham Bank BUMN Diproyeksi Tak Bertahan Lama Untuk mendorong pertumbuhan, bank daerah ini menyiapkan sejumlah strategi. Antara lain peningkatan kualitas layanan digital melalui mobile banking, pemberian fasilitas kredit bagi nasabah payroll, hingga program loyalitas seperti undian tabungan, promo diskon belanja, serta berbagai gimmick pemasaran lainnya.
"Kami berharap langkah tersebut dapat memperkuat loyalitas nasabah sekaligus menjaga stabilitas dana murah di tengah persaingan industri perbankan yang semakin ketat," kata Agus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News