Bank Indonesia (BI) tidak pernah merilis rangking market uang elektronik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko menekankan tidak pernah mempublikasikan data market e-wallet di Tanah Air.

”Bank Indonesia tidak pernah keluarkan atau publikasi data individual,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko, akhir pekan lalu. Maka itu, sambung dia, informasi seputar peringkat penggunaan e-wallet di Indonesia dengan merujuk data dari BI adalah tidak benar.

"Bank Indonesia tidak pernah keluarkan data individual,” tegas Onny.


Baca Juga: Asing catat penjualan bersih Rp 773,16 miliar, IHSG turun 1,11% ke posisi 6.137

Informasi yang diluruskan itu terkait dengan klaim yang menyebutkan OVO sebagai market leader mengalahkan uang elektronik lain seperti LinkAja, DANA, dan GoPay.

Pemeringkatan itu disebut-sebut berasal dari data yang dipublikasikan Bank Indonesia. Lebih jauh lagi, data tersebut berbanding terbalik dengan publikasi dari sejumlah rilis penggunaan uang elektronik di Indonesia. Sebut saja studi dari iPrice group yang bekerjasama dengan perusahaan analisis terpercaya, App Annie.

Studi itu merilis rangking 10 besar e-wallet sejak 2017 sampai 2019. Nomor wahid diduduki GoPay. Kemudian berturut-turut DANA dan LinkAja.

Baca Juga: Sah, DPR setujui Undang-Undang APBN 2020

DI samping itu, GoPay memiliki 10 jenis servis pembayaran karena ada opsi transaksi ride-hailing. Lalu  LinkAja 9 variasi servis, dan PayTren punya 8 tipe servis. Sedangkan DANA dan OVO menawarkan 7 tipe servis pembayaran. (Fajar Anjungroso)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul "Bank Indonesia Tak Pernah Rilis Rangking Market Uang Elektronik"

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .