KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ruang pemangkasan suku bunga atau BI-Rate akan semakin lama dilakukan. Saat ini BI-Rate berada di level 4,75%. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo membeberkan, peluang pemangkasan suku bunga akan semakin lama sejalan dengan dinamika perekonomian global yang terjadi, utamanya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. “Nampaknya ke depan untuk ruang penurunannya kemungkinan semakin lama, semakin tertutup dan kami juga harus kemudian menyikapinya untuk menggunakan untuk stabilitas,” tutur Perry saat melakukan rapat kerja dengan komisi XI DPR RI, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: Kementerian Keuangan Bakal Kantongi Sisa Surplus Rp 30,4 Triliun Lagi dari BI Ia membeberkan, ketidakpastian global kembali memanas pasca konflik Iran dengan AS dan Israel memanas, yang memicu penutupan Selat Hormuz. Hal ini akhirnya mengganggu distribusi perdagangan internasional, serta keuangan global. Perry menambahkan, eskalasi konflik tersebut akhirnya berdampak pada kenaikan harga komoditas global, terutama minyak dan emas, serta meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan. Kenaikan harga minyak yang sempat mencapai US$ 122,95 per barel dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap fiskal dan inflasi domestik. “Meningkatnya harga minyak komoditas di daerah perdagangan terganggunya
supply chain demikian juga finansial. Kemudian ketidakpastian keuangan global menunjukkan bagaimana harga minyak yang meroket di bulan sejak Februari ke Maret bahkan kemarin pernah US$ 122,95 dan itu terus naik turun, naik turun, naik turun,” ungkapnya. Sejalan dengan itu, imbal hasil US Treasury, khususnya tenor 10 tahun dan 2 tahun, yang pada tahun lalu menurun, namun dengan adanya perang di Timur Tengah keduanya meningkat pesat. Penyebab kenaikan imbal hasil tersebut akibat kenaikan defisit fiskal di Amerika Serikat, termasuk untuk anggaran perang. Ia menyebut dampaknya bisa ke Indonesia, salah satunya melalui kenaikan harga minyak yang pada akhirnya akan memengaruhi kondisi fiskal maupun sektor lainnya. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat turut berdampak pada arus masuk portofolio (portfolio inflow) dan aspek lain di pasar keuangan.
Baca Juga: Coretax Bikin Data Pajak Makin Terang, Celah Ketidakpatuhan Kian Terbuka Ia juga menyoroti penurunan portofolio tahun lalu memang volatil namun masih mencatat tren meningkat. Namun sejak tahun ini, terjadi arus keluar (
outflow) yang cukup besar dari negara
emerging market ke pasar keuangan global, baik dalam bentuk obligasi, saham, maupun instrumen lainnya. Di sisi lain, terlihat pula penguatan dolar Amerika Serikat yang menjadi salah satu faktor penekan, sehingga hal ini menjadi pertimbangan pemangkasan suku bunga kedepan akan lebih lambat. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News