Bank jumbo tanah air terus mencetak rekor kapitalisasi pasar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank besar tanah air terus mencetak rekor kapitalisasi pasar. Tak cuma di tingkat nasional, tiga Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) 4 Indonesia juga mendominasi papan atas bank dengan kapitalisasi terbesar di Asia Tenggara.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA, anggota indeks Kompas100) misalnya menutup perdagangan dengan harga saham per lembar Rp 30.125 melonjak 125 poin, setara 0,42% dari penutupan sebelumnya di harga Rp 30.000 per lembar. Nilai tersebut merupakan yang paling tinggi dalam lima tahun terakhir.

Capaian tersebut terus membuat posisi perseroan makin kokoh sebagai perbankan pemilik kapitalisasi pasar terbesar di Asia Tenggara. Dari penelusuran Kontan.co.id pada 11 Juli 2019, nilai bank swasta terbesar di tanah air ini mencapai US$ 52,54 miliar. Nilai tersebut jauh mengungguli peringkat kedua yaitu DBS Group Singapura yang punya kapitalisasi pasar US$ 47,88 miliar.


“Kami tidak memiliki strategi khusus terkait market cap, fokus kami bagaimana dapa memberikan layanan yang baik kepada pelanggan sembari menjaga resiko dan menerapkan good corporate governance (GCG),” kata Direktur BCA Santoso liem kepada Kontan.co.id, Kamis (11/7).

Baca Juga: Tren penjualan SBN ritel oleh perbankan cenderung turun sejak awal tahun

Mitigasi resiko yang baik memang jadi salah satu nilai tambah yang dimiliki perseroan. Sebelumnya Presiden Direktur BCA Jahja Setiatmadja pernah menjelaskan kepada Kontan.co.id kalau perseroan perseroan memang cukup selektif memilih debitur. Tujuannya tentu untuk menjaga kelancaran kredit.

Misalnya, BCA hanya akan menyalurkan kredit kepada korporasi yang dinilainya berkualitas, dan punya potensi untuk mendiversifikasi bisnisnya. Meski selektif, penyaluran kredit BCA nyatanya tetap mumpuni. Hingga Mei 2019 saja, penyaluran kredit perseroan telah mencapai Rp 554,88 triliun, nilai ini tumbuh 14,05% (yoy) dibandingkan raihan perseroan pada Mei 2019 senilai Rp 486,50 triliun.

“Semester kedua ini, kami tidak merevisi rencana bisnis bank (RBB) kami. Karena kami sudah memperhitungkan beberapa hal faktor seperti perang dagang. Masih konservatif, kredit kami targetkan tumbuh 10%-11%, dan dana pihak ketiga 7%-8%,” kata Jahja kepada Kontan.co.id belum lama ini.

Sementara di peringkat ketiga daftar bank pemilik kapitalisasi pasar terbesar di Asia Tenggara juga ditempati bank asal Indonesia yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI, anggota indeks Kompas100). Dalam penutupan perdagangan Kamis (11/7) bank terbesar di tanah air ini terus melanjutkan tren peningkatan harga sahamnya senilai Rp 4.510, meningkat 40 poin, atau setara 0,89% dari penutupan perdagangan kemarin.

Baca Juga: Saham Bank BRI (BBRI) kembali rekor dan jadi penopang IHSG, Kamis (11 Juli 2019)

Dari nilai tersebut kapitalisasi pasar Bank BRI tercatat mencapai US$ 39,17 miliar. Pun nilai harga saham hari ini menciptakan rekor baru harga saham perseroan, dimana rekor tertinggi sebelumnya tercatat Rp.4.460 per lembar saham pada April 2019.

“Beberapa sentimen positif yang mendorong investor terus memburu saham BBRI diantaranya potensi pertumbuhan bisnis BRI yang ditopang di segmen mikro, perkembangan inovasi digital banking BRI serta dampak relaksasi Giro Wajib Minimum (GWM) sehingga menambah likuiditas perseroan,” ujar Corporate Secretary Bank BRI Bambang Tribaroto.

Hingga Mei 2019, penyaluran kredit BRI sendiri telah mencapai Rp 835,22 triliun, tumbuh 11,04% (yoy) dibandingkan Mei 2018 senilai Rp 752,14 triliun. Sedangkan dari catatan pada kuartal 1/2019, porsi kredit UMKM perseroan sebesar 62,8% dari total portofolio kredit. Sedangkan hingga akhir tahun pertumbuhan kredit BRI ditargetkan di kisaran 12%-14%.

Adapula bank pelat merah lain, yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI, anggota indeks Kompas100) yang berada di posisi kelima bank pemilik kapitalisasi pasar terbesar di Asia Tenggara senilai US$ 26,35 miliar. Dalam penutupan perdagangan Kamis (11/7) harga saham bank berlogo pita emas ini menguat 50 poin setara 0,63% menjadi Rp 8.000 per lembar. Meski nilai tersebut bukan rekor tertinggi yang pernah dicetaknya.

Baca Juga: Bank cilik mengejar pertumbuhan kredit di sisa waktu tahun ini

Hingga Mei 2019, perseroan telah menyalurkan kredit Rp 713,42 triliun, tumbuh 10,96% (yoy) dibandingkan Mei 2019 senilai Rp 642,91 triliun. Tahun ini perseroan pun mulai atur ulang strategi penyaluran kreditnya untuk menyasar kredit beresiko rendah seperti mikro, ritel, dan konsumer. 

Tujuannya Bank Mandiri terus berupaya menekan rasio non performing loan (NPL). Maklum, pada kuartal 4/2016 NPL perseroan mencapai 4%. Sedangkan pada kuartal 1/2019 rasionya sebesar 2,68%

Khusus untuk segmen konsumer, perseroan juga kini tengah merencanakan untuk berekspansi ke Filipina dan Vietnam untuk mengembangkan bisnis Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). Perseroan berencana mengakuisisi lembaga keuangan maupun multifinance di dua negara tetangga tersebut.

“Pertimbangan utama yang kita mengerti bisnisnya, yang generik sama di sini. Misalnya Vietnam Filipina itu KKB, ini yang kita bidik khususnya di segmen ritel. Sehingga bukan cuma dari bank saja,” kata Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas belum lama ini.

Rencana akuisisi ini dilakukan sebab perseroan punya kelebihan modal hingga Rp 30 triliun. Dana ini sebelumnya direncanakan untuk mengempit saham PT Bank Permata Tbk (BNLI), sayang ikhtiar tersebut gagal.

Baca Juga: Kredit ekspor impor BNI bertumbuh 45,4% di semester I 2019

Kemudian adapula PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI, anggota indeks Kompas100) yang meskipun tak masuk sepuluh bank pemilik kapitalisasi pasar terbesar d Asia Tenggara, nilainya terus meningkat. Hingga Kamis (11/7) nilai kapitalisasi pasar bank berlogo angka 46 ini mencapai US$ 12,12 miliar, tumbuh 31,59% dibandingkan kuartal 2/2018 senilai US$ 9,21 miliar.

Sedangkan dari penutupan perdagangan Kamis (11/7) nilai saham perseroan menguat 100 poin, atau setara 1,09% menjadi Rp 9.250 per lembar saham.

“Untuk mendorong kapitalisasi pasar, Kami terus melakukan peningkatan kinerja keuangan dengan fokus strategi pada kualitas fundamental keuangan dengan menjaga ROE pada rasio di kisaran peers,” kata Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta kepada Kontan.co.id.

Dengan strategi tersebut, ditambah pengelolaan biaya operasional dan peningkatan cadangan kerugian Herry berharap profitabilitas perseroan bisa terus melaju. Hingga Mei 2019, perseroan telah menyalurkan kredit Rp 503,02 triliun, tumbuh 19,37 % (yoy) dibandingkan Mei 2019 senilai Rp 421,38 triliun.

“Kami menargetkan pertumbuhan kredit hingga akhir tahun di kisaran 13%-15%. Target ini akan kami capai dengan ekspansi pada sektor-sektor potensial dan pemain-pemain utama yang bergerak pada sektor tersebut, pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur yang masih jadi fokus pembangunan serta optimalisasi kredit konsumer berbasis payroll dan KPR,” lanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi