KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk (
BMAS) menargetkan pertumbuhan portofolio kredit sebesar Rp 3,8 triliun pada 2027. Untuk mendukung ekspansi tersebut, perusahaan tengah menjalankan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) IV atau rights issue dengan harga pelaksanaan Rp 350 per saham. Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada (26/10/2026), Bank Kasikorn menjelaskan bahwa penetapan harga pelaksanaan
rights issue mengacu pada nilai buku atau book value, serta mempertimbangkan harga pasar terkini dan harga saham emiten perbankan lainnya. Bank Kasikorn menyatakan, pertumbuhan kredit pada 2027 akan ditopang oleh ekspansi bisnis kepada nasabah eksisting maupun nasabah baru yang memiliki profil risiko sesuai dengan toleransi risiko perusahaan.
Baca Juga: Pertumbuhan DPK Perbankan Melambat, Bank Berebut Dana Murah di Kuartal IV-2026 "Bank menargetkan pertumbuhan portofolio kredit sebesar Rp 3,8 triliun pada tahun 2027," tulis manajemen Bank Kasikorn dalam keterbukaan informasi tersebut. Perusahaan ini menjelaskan, peningkatan penyaluran kredit diperlukan untuk mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan melalui optimalisasi aset produktif dan peningkatan pendapatan bunga. Ekspansi kredit juga diharapkan memperkuat posisi Bank Kasikorn pada segmen yang menjadi target perusahaan, meningkatkan daya saing, memperluas basis nasabah, serta mendukung pencapaian target profitabilitas dan skala usaha. Dari sisi sasaran, penyaluran kredit akan difokuskan pada segmen korporasi, terutama perusahaan dengan fundamental usaha yang kuat, tata kelola yang baik, serta aktivitas bisnis yang sejalan dengan fokus industri dan strategi Bank Kasikorn. Perusahaan juga akan melakukan diversifikasi portofolio ke sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan positif untuk menjaga kualitas aset dan profil risiko. Dalam aksi korporasi PMHMETD IV, Bank Kasikorn menetapkan harga pelaksanaan sebesar Rp 350 per saham. Dana yang diperoleh dari penerbitan saham baru akan digunakan sebagai modal kerja, terutama untuk menyediakan pendanaan bagi penyaluran kredit kepada nasabah korporasi. Manajemen menjelaskan, kebutuhan dana dihitung berdasarkan proyeksi pertumbuhan aset produktif, khususnya kredit, yang diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).
Baca Juga: Transaksi BSI International Expo Tembus Rp 5,38 Triliun, Haji dan Umrah Mendominasi Tambahan pendanaan diperlukan untuk menjaga kecukupan likuiditas, mendukung ekspansi kredit, memenuhi rasio prudensial, serta menjaga struktur pendanaan agar tetap sehat dan seimbang. Dalam pelaksanaan rights issue ini, pemegang saham pengendali Kasikorn Vision Financial Company Limited (KVF), yang memiliki sekitar 86,03% saham BMAS, akan bertindak sebagai pembeli siaga atau
standby buyer. KVF berkomitmen mengambil seluruh sisa saham baru yang tidak diambil oleh pemegang saham lain setelah alokasi secara proporsional. Jumlah maksimal saham yang akan diserap mencapai 2,85 miliar saham dengan harga pelaksanaan Rp 350 per saham. Bank Kasikorn menyatakan telah memiliki bukti kecukupan dana dari informasi rekening bank tertanggal 26 Agustus 2026. Perusahaan ini juga menegaskan tidak terdapat persyaratan yang dapat memengaruhi pelaksanaan komitmen KVF sebagai pembeli siaga. Di sisi lain, Bank Kasikorn masih mencari opsi untuk memenuhi ketentuan minimum saham beredar di publik atau
free float sebesar 15%. Dalam tanggapannya kepada BEI, perusahaan menyebut tengah mengkaji sejumlah alternatif, termasuk kemungkinan masuknya mitra strategis atau mitra usaha yang memiliki pandangan positif terhadap Indonesia dan Bank Kasikorn dalam jangka panjang. "Komunikasi dengan beberapa pihak potensial terpilih masih berlangsung dan telah memasuki tahapan penilaian awal yang relevan," tulis manajemen. Perusahaan menyatakan telah menyiapkan dan mempresentasikan investment teaser kepada calon investor terpilih. Proses tersebut juga telah berlanjut ke tahap uji tuntas atau
due diligence. Namun, Bank Maspion belum dapat mengungkapkan lebih jauh mengenai calon mitra strategis tersebut karena proses pembahasan masih berlangsung dan terikat perjanjian kerahasiaan atau
non-disclosure agreement (NDA).
Baca Juga: BRI Salurkan KUR Rp 144 Triliun kepada 2,76 Juta Debitur hingga Agustus 2026 Bank Kasikorn mengakui, pelaksanaan
rights issue berpotensi memengaruhi struktur kepemilikan saham. Karena itu, perusahaan akan mengevaluasi struktur kepemilikan setelah aksi korporasi selesai untuk menentukan langkah pemenuhan ketentuan
free float. Perusahaan menargetkan pemenuhan free float minimum 15% paling lambat pada 31 Maret 2028, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam keterbukaan informasi yang sama, Bank Kasikorn menyatakan tidak memiliki pembatasan atau negative covenants yang dapat menghambat pelaksanaan rights issue maupun berpotensi merugikan hak pemegang saham publik. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News