KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank kelompok KBMI 2 mulai terang-terangan membidik kenaikan status menjadi Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 3. Salah satu bank yang membidik kenaikan kelas adalah PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank). Perseroan menargetkan dapat masuk ke KBMI 3 dalam waktu dekat, meski realisasinya masih bergantung pada tambahan modal dari pemegang saham. Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan, tambahan modal menjadi syarat utama agar perseroan mampu memperbesar kapasitas bisnis, terutama dalam mendorong pertumbuhan kredit korporasi.
"Untuk naik kelas ke KBMI 3, yang paling penting adalah tambahan modal. Untuk mengembangkan kredit korporasi dan bisnis lainnya juga membutuhkan modal. Harapan kami bisa segera," ujar Kunardy di Jakarta, Kamis (2/7).
Baca Juga: KB Bank Perkuat Keamanan Siber, Gelontorkan Rp 2,61 Miliar untuk Sistem PAM Hingga kuartal I-2026, modal inti konsolidasi KB Bank mencapai Rp 7,48 triliun. Artinya, perseroan masih membutuhkan tambahan modal untuk bisa masuk ke kelompok bank dengan modal inti Rp 14 triliun hingga Rp 70 triliun. Kunardy mengatakan, selain memperkuat permodalan, KB Bank juga masih menyelesaikan sejumlah agenda transformasi, mulai dari penguatan tata kelola perusahaan (
governance), peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga penyempurnaan proses bisnis. Menurut dia, efisiensi organisasi yang dilakukan sebelumnya merupakan bagian dari transformasi agar produktivitas perusahaan meningkat. "Ibarat ingin mengikuti maraton. Kalau bebannya terlalu berat, tentu harus diringankan agar bisa berlari lebih cepat dan lebih produktif," katanya. Ia menambahkan, dukungan dari pemegang saham pengendali, KB Financial Group (KBFG), tetap terbuka apabila perseroan membutuhkan tambahan modal. Namun, induk usaha juga ingin melihat upaya perbaikan yang dilakukan manajemen terlebih dahulu. Selain KB Bank, PT Bank Mandiri Taspen juga telah memasang target naik kelas ke KBMI 3 pada 2028. Direktur Utama Bank Mandiri Taspen Panji Irawan mengatakan, transformasi yang tengah dilakukan perseroan diarahkan untuk memperkuat layanan bagi segmen pensiunan sekaligus menopang pertumbuhan bisnis jangka panjang. Sementara itu, Kepala Divisi Pengembangan Strategi Bisnis Bank Mandiri Taspen Agus Syaiful Anwar mengatakan, tanpa aksi korporasi pun perseroan optimistis mampu mencapai status KBMI 3 melalui akumulasi laba ditahan. Per Maret 2026, modal inti Bank Mandiri Taspen tercatat sekitar Rp 9,3 triliun. Dengan laba bersih yang terus bertumbuh, bank tersebut memperkirakan dapat memenuhi persyaratan modal inti KBMI 3 pada 2028. "Kalau performa kami flat saja, laba sekitar Rp 1,6 triliun di 2026, 2027, 2028, kami optimistis Bank Mandiri Taspen dapat mencapai KBMI 3 pada 2028," ujar Agus. Menurut Agus, kenaikan status KBMI nantinya juga akan diikuti diversifikasi bisnis. Jika saat ini sekitar 99% kredit masih berasal dari segmen pensiunan, ke depan Bank Mandiri Taspen akan lebih agresif menyasar nasabah pra-pensiun dengan berbagai produk pembiayaan dan investasi. Namun tidak semua bank KBMI 2 menjadikan kenaikan kelas sebagai prioritas. PT Allo Bank Indonesia Tbk misalnya, menyatakan belum memiliki rencana untuk mengejar status KBMI 3 dalam waktu dekat. Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank Ganda Raharja Rusli mengatakan, berbeda dengan rezim BUKU sebelumnya, klasifikasi KBMI pada dasarnya tidak lagi membatasi produk dan layanan bank secara spesifik. Menurutnya, keunggulan utama bank KBMI 3 lebih pada ruang melakukan penyertaan modal di lembaga keuangan luar negeri maupun kegiatan operasional lintas batas. "Allo Bank dalam waktu dekat belum memiliki rencana untuk naik ke KBMI 3. Saya tidak melihat bank-bank di Indonesia secara spesifik menargetkan KBMI tertentu demi pendekatan produk dan layanan," ujarnya. Ia menilai setiap penambahan modal harus mempertimbangkan tingkat pengembalian kepada pemegang saham. Pasalnya, modal yang besar tetapi belum mampu dikonversi menjadi pendapatan hanya akan menekan tingkat pengembalian ekuitas atau
return on equity (ROE). Meski demikian, Ganda mengakui tambahan modal tetap memberikan manfaat berupa meningkatnya kapasitas penyaluran kredit serta memperluas akses pendanaan. "Manfaat konkret utama atas setoran modal yang lebih besar adalah kapasitas penyaluran kredit yang lebih besar. Selain itu, ada beberapa perusahaan maupun instansi pemerintah yang mensyaratkan status KBMI tertentu sebagai bank penempatan dana," jelasnya. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, tekanan likuiditas, dan perlambatan pertumbuhan kredit, Ganda menilai mayoritas bank masih akan berhati-hati dalam melakukan ekspansi. Ia mengatakan penambahan modal di luar laba ditahan (
retained earnings) belum menjadi prioritas industri pada tahun ini. "Saya melihat bank-bank di Indonesia akan lebih fokus memperkuat kualitas aset, efisiensi, dan profitabilitas karena hal tersebut merupakan esensi dasar kegiatan perusahaan, terlepas dari kondisi eksternal yang terjadi," katanya. Per Maret 2026, modal inti Allo Bank tercatat sekitar Rp 7,51 triliun. Adapun Staf Riset Ekonomi Makro PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Myrdal Gunarto menilai, kenaikan dari KBMI 2 ke KBMI 3 memang memberikan ruang bisnis yang lebih luas, tetapi bukan jaminan bank akan tumbuh lebih cepat. Menurut Myrdal, bank KBMI 3 memiliki kapasitas yang lebih besar untuk menyalurkan kredit korporasi, mengikuti pembiayaan proyek infrastruktur, menyediakan produk keuangan yang lebih kompleks, hingga memperluas layanan digital. Status tersebut juga memberikan efek positif terhadap persepsi investor dan nasabah korporasi. Namun, ia mengingatkan bahwa kenaikan modal tanpa diikuti kemampuan memperbesar kredit, menghimpun dana pihak ketiga (DPK), serta meningkatkan pendapatan berbasis komisi hanya akan menekan profitabilitas bank. "Jika modal inti membesar tetapi laba bersih stagnan karena bank gagal mengekspansi kredit, menghimpun DPK, maupun meningkatkan
fee based income, maka
return on equity (ROE) akan turun," ujarnya. Selain itu, modal yang belum terserap untuk ekspansi berpotensi menganggur pada instrumen berimbal hasil rendah sehingga menekan
net interest margin (NIM). Di sisi lain, beban operasional dapat meningkat setelah ekspansi sehingga rasio efisiensi ikut memburuk. Dalam kondisi suku bunga yang masih tinggi dan likuiditas yang ketat, Myrdal menilai penguatan fundamental justru harus menjadi prioritas utama.
Ia menyebut bank perlu lebih dahulu memperkuat dana murah (CASA), menjaga kualitas aset, mengendalikan rasio kredit bermasalah (NPL), meningkatkan efisiensi operasional, serta mempertahankan profitabilitas. "Kesimpulannya, kenaikan ke KBMI 3 idealnya merupakan hasil dari pertumbuhan bisnis organik yang kuat, bukan tujuan utama yang dicapai secara instan dengan mengorbankan tingkat pengembalian kepada pemegang saham," pungkasnya.
Baca Juga: Jerry Ng Dikabarkan Tengah Mempertimbangkan Merger Bank Jago dan BFI Finance Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News