KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan mencatatkan akselerasi pada Mei 2026. Menariknya, penguatan dana masyarakat tersebut ditopang oleh lonjakan simpanan valuta asing (valas) di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Bank Indonesia (BI) melaporkan, DPK perbankan mencapai Rp 9.698,7 triliun pada Mei 2026 atau tumbuh 10,8% secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan April 2026 yang sebesar 9,5% yoy. Jika ditelisik lebih dalam, pertumbuhan DPK ditopang oleh simpanan valas yang melonjak 17,8% yoy pada Mei 2026. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan April 2026 yang hanya 8,6% yoy. Sementara itu, simpanan dalam rupiah tumbuh relatif stabil sebesar 9,6% yoy.
Baca Juga: Rupiah Melemah & BI Rate Naik, Mega Insurance Waspadai Kenaikan Rasio Klaim Chief Economist PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Myrdal Gunarto menilai, lonjakan DPK valas didorong oleh sentimen flight to quality dan kebutuhan lindung nilai (
natural hedging) di tengah ketidakpastian pergerakan nilai tukar. Menurutnya, pelemahan rupiah yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir mendorong masyarakat dan pelaku usaha mengalihkan sebagian dana ke instrumen berdenominasi dolar AS untuk menjaga nilai aset. "Depresiasi rupiah yang cukup persisten menekan ekspektasi pasar sehingga memicu pergeseran perilaku. Masyarakat maupun entitas bisnis cenderung menahan kepemilikan valas atau mengonversi rupiah ke dolar AS untuk mengamankan kewajiban impor dan pembayaran utang luar negeri," ujar Myrdal kepada Kontan, Rabu (24/6/2026). Ia menjelaskan, dari sisi korporasi, pertumbuhan simpanan valas ditopang oleh eksportir yang menikmati kenaikan harga komoditas dan penguatan dolar AS. Kondisi tersebut membuat aliran devisa hasil ekspor (DHE) yang ditempatkan di perbankan meningkat. "Kalau dari sisi korporasi, eksportir saat ini menikmati dampak lonjakan harga komoditas maupun nilai dolar yang semakin tinggi. Jadi wajar kalau tabungan maupun deposito valas mengalami kenaikan," katanya. Sementara dari sisi individu, Myrdal melihat adanya peningkatan minat terhadap produk-produk perbankan berbasis valas yang menawarkan imbal hasil menarik.
Baca Juga: UU P2SK Beri Penjaminan Polis, ASEI Yakin Dapat Berdampak Positif bagi Asuransi "Pemilik dana memanfaatkan berbagai produk perbankan berbasis valas seiring tren penguatan dolar dalam beberapa bulan terakhir," ujarnya. Data BI menunjukkan pergeseran perilaku tersebut tercermin dari pertumbuhan simpanan valas per instrumen. Tabungan valas tumbuh 29,9% yoy pada Mei 2026, sedangkan deposito valas meningkat 27,9% yoy. Myrdal menilai pertumbuhan DPK valas hingga saat ini masih didominasi oleh segmen korporasi. Hal itu tercermin dari pertumbuhan DPK korporasi yang mencapai 18,6% yoy per Mei 2026. "Secara nominal, korporasi menjadi penopang utama pertumbuhan DPK valas, khususnya dari eksportir yang menempatkan devisa hasil ekspor pada instrumen simpanan berjangka valas," katanya. Meski demikian, ia memperkirakan laju pertumbuhan DPK valas berpotensi melambat pada paruh kedua tahun ini apabila tekanan terhadap dolar AS mulai mereda. Menurut Myrdal, kombinasi kebijakan Bank Indonesia melalui kenaikan BI Rate menjadi 5,75%, optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) berpotensi membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Selain itu, apabila inflasi global mereda dan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mulai membuka ruang kebijakan yang lebih akomodatif, tren penguatan dolar AS dapat berbalik. "Kalau dolar mulai melemah dan The Fed lebih akomodatif, ada kemungkinan porsi simpanan valas akan kembali menurun karena kebutuhan akumulasi dolar berkurang," jelasnya.
Baca Juga: Saham Big Banks Kian Tertekan Aksi Net Sell Asing, Cermati Rekomendasi Analis Ia memperkirakan pertumbuhan DPK valas industri perbankan akan berada di kisaran 10,38% hingga akhir 2026. Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan mengakui terdapat kenaikan DPK valas di bank yang dipimpinnya. Namun demikian, perseroan tetap fokus pada penghimpunan dana rupiah sejalan dengan kebutuhan penyaluran kredit. "DPK valas memang ada kenaikan sedikit lebih tinggi. Namun kami tetap fokus pada rupiah karena sejalan dengan pipeline kredit. DPK valas kami mayoritas berasal dari nasabah eksportir dan importir," ujar Lani. Hingga Mei 2026, DPK CIMB Niaga tercatat sebesar Rp 326,24 triliun atau tumbuh 8,21% yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 301,48 triliun. Di sisi lain, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga mencatat pertumbuhan simpanan valas, meski porsinya masih relatif kecil dibandingkan dana rupiah.
Head of Liquidity and Funding Management Group BRI Teguh Sulistyono mengungkapkan DPK valas BRI tumbuh 9,82% yoy hingga Mei 2026. Sementara DPK rupiah tumbuh 8,38% yoy. "DPK valas BRI tumbuh sekitar 9,82%. Namun porsi DPK valas kami memang tidak terlalu besar karena BRI fokus pada segmen mikro sehingga konsentrasi utama tetap pada DPK rupiah," ujar Teguh.
Baca Juga: Penggunaan Kartu Kredit Diproyeksi Tumbuh Sampai 7% pada Semester II-2026 Menurut Teguh, pelemahan rupiah sejauh ini belum berdampak signifikan terhadap perilaku nasabah ritel BRI dalam menempatkan dana pada instrumen valas.
"Sampai sekarang belum ada tanda-tanda pelemahan rupiah yang berdampak terhadap pertumbuhan DPK valas. Transaksi tukar valas ritel juga tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan," katanya. Ia menegaskan pertumbuhan DPK valas BRI lebih banyak dipengaruhi kebutuhan intermediasi perbankan dibandingkan faktor spekulatif. "Basis penyaluran kredit kami mayoritas dalam rupiah sehingga kebutuhan penghimpunan dana juga mengikuti struktur kredit tersebut," pungkas Teguh. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News