Bank Kesejahteraan Ekonomi terbitkan obligasi



JAKARTA. Meski akhir tahun 2016 tinggal menghitung hari, masih ada perusahaan yang melakukan aksi korporasi. Teranyar, ada PT Bank Kesejahteraan Ekonomi yang menerbitkan Obligasi Subordinasi I Bank BKE tahun 2016 dengan jumlah pokok sebesar Rp 170 miliar.

Obligasi ini memberikan tingkat bunga tetap 11,85% per tahun, yang akan dibayarkan tiap tiga bulan. Jatuh tempo obligasi ini dipatok pada 22 Desember 2021 mendatang. Pembayaran bunga pertama akan dilakukan pada tanggal 22 Maret 2017.

Analis Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Lili Indarli bilang, obligasi milik Bank BKE ini memperoleh peringkat BBB- dan outlook stabil. Ini hanya satu tingkat di atas level non-investment grade. Dengan kupon sebesar 11,85%, ia melihat kemungkinan obligasi ini masih akan diminati investor.


"Rata-rata yield obligasi korporasi dengan rating BBB di level 11,18%,” terang Lili.

Lili mengatakan, kemungkinan Bank BKE menetapkan kupon yang relatif tinggi untuk membuat obligasi ini lebih menarik di mata investor. Memang, Desember ini pergerakan pasar sedang agak tertekan akibat kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS). Sehingga menurut Lili, Bank BKE harus menetapkan kupon relatif tinggi supaya obligasi ini terlihat lebih atraktif di mata investor.

Berbeda dengan Lili, Senior Research Analyst Pasar Dana Beben Feri Wibowo memprediksi, Obligasi Subordinasi I Bank BKE tahun 2016 justru akan kurang dilirik oleh para pelaku pasar.

"Wajar saja jika kupon yang ditawarkan tinggi, karena sejalan dengan risikonya yang cukup besar, apalagi ditambah suku bunga acuan tahun depan masih dalam kondisi yang tidak pasti," terang Beben.

Selain dengan pertimbangan peringkat, Beben juga melihat obligasi terbitan Bank BKE ini akan kalah saing di pasar surat utang. Sebelumnya ada penawaran medium term note (MTN) dari emiten berbeda dengan peringkat lebih tinggi dan dengan kupon yang relatif menarik.

Untuk para investor yang berniat mengoleksi obligasi ini, Lili menyarankan untuk lebih cermat dalam mengamati risiko. "Lihat dan dalami dulu kondisi fundamental perseroan, seperti laporan keuangan dan komposisi manajemennya," terang Lili.

Tujuannya, agar investor dapat melihat perbandingan antara return dan risikonya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie