KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Insentif likuiditas yang diberikan Bank Indonesia (BI) melalui Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) belum sepenuhnya ditransmisikan menjadi penurunan suku bunga kredit mikro di industri perbankan. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi salah satu bank yang masih mempertahankan bunga kredit mikro di tengah kenaikan biaya dana. Senior Vice President Micro Development and Agent Banking Bank Mandiri Bayu Trisno Arief Setiawan mengatakan, insentif likuiditas dari BI lebih dimanfaatkan perseroan untuk memperkuat kapasitas penyaluran kredit mikro dibandingkan menurunkan suku bunga kredit.
"Adanya insentif likuiditas dari Bank Indonesia melalui Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) belum secara langsung berdampak pada penurunan suku bunga kredit mikro. KLM lebih dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas penyaluran kredit mikro daripada melakukan penurunan suku bunga," ujar Bayu kepada Kontan.co.id.
Baca Juga: Laba BCA Tumbuh 1,8% Semester I-2026, Simak Rekomendasi Terbarunya Meski demikian, Bayu memastikan Bank Mandiri masih mampu menjaga stabilitas suku bunga kredit mikro di tengah dinamika pasar. Menurutnya, ruang untuk menurunkan bunga kredit semakin terbatas setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan. Kenaikan BI Rate turut mendorong kenaikan
cost of fund, sehingga bank perlu lebih berhati-hati dalam menetapkan harga kredit. "Adanya kenaikan BI Rate berdampak pada kenaikan
cost of fund sehingga ruang untuk menurunkan suku bunga kredit menjadi lebih terbatas," katanya. Bayu menjelaskan, penetapan suku bunga kredit tidak hanya dipengaruhi oleh BI Rate. Bank juga mempertimbangkan biaya operasional, profil risiko debitur, hingga kualitas portofolio kredit. Karena itu, hingga akhir tahun perseroan memperkirakan bunga kredit mikro masih akan cenderung stabil. "Selama faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan bunga, seperti kebijakan BI Rate, kondisi likuiditas, dan
cost of fund belum mengalami penurunan yang signifikan, maka suku bunga kredit masih akan stabil dengan kualitas aset yang tetap terjaga," ujarnya. Di tengah terbatasnya ruang penurunan bunga, Bank Mandiri tetap membidik pertumbuhan kredit mikro dengan mengedepankan kualitas aset.
Baca Juga: Gadai Barang Mewah Mulai Dilirik, Budi Gadai Lihat Potensi Pembiayaan Lebih Besar Bayu mengatakan, strategi utama perseroan adalah memperkuat penyaluran kredit yang lebih selektif melalui pemanfaatan
data analytics dan pengembangan ekosistem bisnis. Dalam proses akuisisi debitur, Bank Mandiri memprioritaskan
leads yang berasal dari hasil analisis data, ekosistem turunan segmen
wholesale, serta nasabah dengan rekam jejak transaksi yang baik. Selain itu, perseroan juga terus memperkuat pemantauan kualitas kredit, baik melalui
leading indicator maupun
lagging indicator, guna mengantisipasi potensi penurunan kualitas aset sejak dini. Di sisi pendanaan, Bank Mandiri juga akan mendorong peningkatan dana murah dan aktivitas transaksi nasabah mikro sebagai bagian dari upaya menjaga biaya dana tetap terkendali.
Baca Juga: Bank Mandiri Dukung Pembayaran Tiket MRT Jakarta dengan Kartu Kredit Nirsentuh "Strategi kami untuk segmen mikro adalah fokus pada
booking yang berasal dari
leads berbasis
data analytics, ekosistem turunan
wholesale, dan transaksi nasabah. Selain itu kami juga fokus pada
monitoring kualitas kredit serta peningkatan transaksi dan dana nasabah segmen mikro," jelas Bayu. Jika dilihat dari laman perseroan, suku bunga dasar kredit mikro per 30 Juni 2026 berada di level 12,75%. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News