Bank Mandiri Proyeksi Surplus Neraca Dagang Meningkat Jadi US$ 2,5 Miliar Maret 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Office Center of Economic (OCE) Bank Mandiri memproyeksikan surplus neraca perdagangan Indonesia akan meningkat pada Maret 2026 sebesar US$ 2,5 miliar, naik dari surplus US$ 1,3 miliar pada Februari 2026.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan pelebaran surplus dagang pada Maret tersebut, didorong oleh kenaikan harga komoditas dan permintaan eksternal yang tetap kuat.

"Kenaikan ini terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas, khususnya dari ekspor nikel dan energi, serta permintaan yang tetap kuat dari China dan India," ungkap Asmo kepada Kontan, Minggu (3/5/2026).


Baca Juga: Surplus Neraca Dagang Diproyeksi Meningkat Jadi US$ 2,34 Miliar pada Maret 2026

Namun, Andry menyebut kontribusi dari komoditas crude palm oil (CPO) diperkirakan lebih terbatas seiring melemahnya volume pengapalan.

Dari sisi kinerja perdagangan, ekspor diproyeksikan turun 1,5% secara tahunan, namun meningkat 3,3% secara bulanan menjadi US$ 22,9 miliar. Kenaikan ini didukung oleh harga komoditas yang lebih tinggi serta permintaan eksternal yang tetap terjaga.

Harga nikel tercatat naik 6,2% secara year on year (yoy) pada Maret 2026, sementara harga baja meningkat 10,5% YoY, memberikan dorongan tambahan terhadap nilai ekspor. Harga CPO juga menguat 8% secara bulanan atau 5,5% YoY.

Meski demikian, volume ekspor minyak sawit Indonesia mengalami penurunan tajam sebesar 45,9% secara month to month (MoM) menjadi 1,285 juta ton dari 2,376 juta ton pada Februari 2026, yang menunjukkan bahwa kenaikan harga sebagian tertahan oleh pelemahan volume.

Lebih lanjut, Andry menyebutkan pengiriman ke China diperkirakan tetap menjadi kontributor terbesar dengan pertumbuhan signifikan, masing-masing sebesar 40,9% MoM dan 76,2% YoY, didorong oleh permintaan batu bara dan logam dasar. Bahkan, ekspor produk mineral ke China melonjak hingga 250% YoY, sementara ekspor baja naik 22% YoY.

Sementara itu, ekspor ke India diperkirakan tetap terjaga berkat permintaan terkait CPO meskipun volume pengiriman melemah. Ekspor ke Jepang dan Singapura juga diproyeksikan mendapat manfaat dari penguatan harga komoditas energi.

Dari sisi impor, nilainya diperkirakan tumbuh 8,0% YoY, namun turun 2,2% MoM menjadi US$ 20,4 miliar. Kenaikan harga minyak mentah yang mencapai 43,6% MoM diperkirakan akan meningkatkan nilai impor migas.

Baca Juga: Ekonom Ini Proyeksi Inflasi Bulanan pada April Sekitar 0,43%, Terdorong Inflasi Inti

Namun demikian, data perdagangan dari negara mitra seperti Korea Selatan, Taiwan, dan China menunjukkan volume pengiriman ke Indonesia cenderung melemah.

Kondisi ini sejalan dengan moderasi PMI Manufaktur Indonesia yang turun menjadi 50,1 pada Maret 2026, atau turun 6,9 poin secara bulanan, yang masih mencerminkan ekspansi namun dengan laju yang lebih lambat.

Impor dari China diperkirakan tetap mendominasi, terutama didorong oleh kebutuhan barang modal dan bahan baku. Sementara itu, impor dari Singapura yang didominasi komoditas energi diproyeksikan meningkat secara nilai akibat lonjakan harga minyak mentah.

"Secara keseluruhan, surplus neraca perdagangan pada Maret 2026 diperkirakan melebar. Namun, prospek ekspor dinilai semakin tidak merata karena kenaikan harga komoditas diimbangi oleh pelemahan volume pada sejumlah komoditas utama seperti minyak sawit," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News