JAKARTA. Tahun ini, industri Perbankan bersiap mengerem laju penyaluran kredit valuta asing (valas). Pasalnya, risiko kredit valas masih tinggi akibat dari perlambatan ekonomi dan fluktuasi nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Kendati berisiko, penyaluran kredit valas masih tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kredit bermata uang Rupiah di tahun lalu. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Desember 2013, kredit valas tumbuh 34,24% menjadi Rp 572,37 triliun dari posisi Rp 426,84 triliun per Desember 2012. Sedangkan, kredit berbasis Rupiah tumbuh lebih rendah yakni 19,24% menjadi Rp 2.720,50 triliun per Desember 2013, dibandingkan posisi Rp 2.281,02 triliun per Desember 2012. Kelompok bank yang paling tinggi mencatatkan pertumbuhan kredit valas pada tahun 2013 adalah kelompok bank campuran yakni tumbuh 40% menjadi Rp 105,40 triliun.
Bank mengerem kredit valas
JAKARTA. Tahun ini, industri Perbankan bersiap mengerem laju penyaluran kredit valuta asing (valas). Pasalnya, risiko kredit valas masih tinggi akibat dari perlambatan ekonomi dan fluktuasi nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Kendati berisiko, penyaluran kredit valas masih tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kredit bermata uang Rupiah di tahun lalu. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Desember 2013, kredit valas tumbuh 34,24% menjadi Rp 572,37 triliun dari posisi Rp 426,84 triliun per Desember 2012. Sedangkan, kredit berbasis Rupiah tumbuh lebih rendah yakni 19,24% menjadi Rp 2.720,50 triliun per Desember 2013, dibandingkan posisi Rp 2.281,02 triliun per Desember 2012. Kelompok bank yang paling tinggi mencatatkan pertumbuhan kredit valas pada tahun 2013 adalah kelompok bank campuran yakni tumbuh 40% menjadi Rp 105,40 triliun.