JAKARTA. Perbankan masih mengkaji penempatan likuiditas valuta asing (valas) dalam surat utang (global bond) pemerintah senilai US$ 1,75 miliar, atau setara Rp 15,76 triliun. Bagi beberapa bank, tawaran imbal hasil atau yield sebesar 5,375% untuk valas terbilang tinggi, tetapi bukan berarti menarik dikoleksi. Vera Eve Lim, Direktur Keuangan Bank Danamon mengatakan, pihaknya tidak berencana membeli global bond. Kalaupun likuiditas valas sedang melimpah, manajemen memilih mengalirkan ke kredit, karena lebih menguntungkan. Apalagi, beberapa tahun terakhir, permintaan kredit valas lumayan tinggi. Lihat saja, hingga kuartal III-2011, penyaluran kredit valas tumbuh 41,8% menjadi Rp 339,98 triliun. Sementara dana pihak ketiga (DPK) hanya tumbuh 3,3%. Data ini menunjukkan besarnya permintaan kredit ketimbang sumber dana yang tersedia.
Untuk menutup kebutuhan, bank banyak menggunakan dana di rekening nostro. Nostro adalah rekening giro milik orang atau perusahaan Indonesia di bank luar negeri. Ini dana menganggur yang bersifat jangka pendek. Bank Central Asia (BCA) juga belum ada rencana memarkir dana di global bond. Bank yang pasokan likuiditasnya terbilang melimpah ini menilai jangka waktu 30 tahun tidak sesuai dengan kriteria penempatan valas perseroan. Branko Windoe, Kepala Tresuri BCA mengatakan, penyaluran dana selalu diprioritaskan untuk kredit. Berbeda dengan BCA dan Danamon, Bank Mandiri berniat mengalokasikan ekses atau kelebihan likuiditas ke global bond. "Ini alternatif investasi dalam valas," kata Royke Tumilar, Managing Director Tresury, Financial Institution and Special Asset Management Bank Mandiri, Rabu (11/1). Royke belum dapat menyebutkan nilai penempatan dananya.