KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Muamalat Indonesia Tbk memperkuat tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan (
Governance, Risk, and Compliance/GRC) seiring perubahan strategi bisnis yang mengarah pada penguatan segmen ritel dan usaha kecil dan menengah (SME). Direktur Bank Muamalat Karno mengatakan, perubahan fokus bisnis tersebut membuat penguatan tata kelola menjadi semakin penting. Pasalnya, ekspansi ke segmen ritel dan SME perlu diimbangi dengan pengelolaan risiko yang memadai, terutama di tengah ketatnya regulasi industri perbankan.
Baca Juga: SI Buka Akses Rekening bagi Masyarakat, Setoran Awal Mulai Rp 1.000 "Seiring dengan perubahan visi Bank Muamalat 'Menjadi Jalan Hijrah Menuju Berkah', kami melakukan transformasi dengan fokus ke segmen retail dan SME. Sehingga penguatan tata kelola menjadi sangat penting untuk pertumbuhan yang berkelanjutan," kata Karno dalam keterangannya, Rabu (9/9/2026). Dalam strategi
back to core tersebut, Bank Muamalat memperkuat fungsi Dewan Komisaris, Direksi, dan Dewan Pengawas Syariah dalam mengawal arah bisnis perseroan. Penguatan juga dilakukan dari sisi manajemen risiko melalui penerapan kerangka pengelolaan risiko yang mengacu pada prinsip
good corporate governance (GCG), nilai perusahaan, serta peningkatan kesadaran risiko di seluruh lini organisasi. Bank Muamalat menjalankan strategi tersebut melalui penguatan budaya risiko, komunikasi internal, pelatihan dan sertifikasi manajemen risiko, serta penerapan sistem reward and punishment sesuai ketentuan perusahaan. Selain aspek tata kelola dan risiko, Bank Muamalat mulai mengintegrasikan prinsip maqashid syariah, environmental, social, and governance (ESG), serta sustainable finance ke dalam kerangka pengelolaan perusahaan.
Baca Juga: BCA Catat Penyaluran KPR Rp144,3 Triliun hingga Juni 2026 Karno mengatakan, risiko ESG dan risiko syariah telah dimasukkan ke dalam kerangka risk appetite perusahaan. Menurut dia, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan ekspansi bisnis tetap berada dalam koridor risiko yang telah ditetapkan. "Kami sudah mengintegrasikan risiko ESG dan risiko syariah ke dalam kerangka
risk appetite perusahaan. Dari sisi compliance, seluruh pembiayaan Bank Muamalat dijalankan sesuai prinsip syariah," ujarnya. Di sisi kepatuhan, Bank Muamalat juga mengacu pada ketentuan regulator, termasuk regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), serta fatwa Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Perseroan juga mengaitkan prinsip maqashid syariah dengan aspek ESG serta dampaknya terhadap
people, planet, dan profit. Pendekatan tersebut menempatkan keberlanjutan dan penciptaan manfaat sebagai bagian dari pertimbangan dalam menjalankan bisnis.
Baca Juga: Simak Bocoran Rencana Pembagian Dividen Interim BCA (BBCA) Tahap Ketiga Penguatan GRC tersebut turut mengantarkan Bank Muamalat meraih penghargaan dalam TOP GRC Awards 2026 yang diselenggarakan TopBusiness. Bank Muamalat memperoleh TOP GRC Awards 2026 #STAR 4. Sementara itu, Direktur Utama Bank Muamalat Imam Teguh Saptono meraih penghargaan The Most Committed GRC Leader 2026. Penilaian penghargaan tersebut mencakup sistem dan infrastruktur GRC serta penerapan GCG, manajemen risiko, dan manajemen kepatuhan dalam mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News