KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah bersama
Bank Indonesia (BI) resmi meluncurkan program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) untuk mendorong penyaluran pembiayaan ke sektor produktif. Inisiatif ini diharapkan mampu mengurai hambatan intermediasi sekaligus menopang target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,4%–5,5%. Menanggapi hal tersebut,
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menyatakan kesiapan untuk mendukung implementasi program tersebut.
Direktur Commercial Banking BNI,
Muhammad Iqbal, mengatakan perseroan akan mengoptimalkan fungsi intermediasi serta memperluas akses pembiayaan, khususnya bagi sektor riil, proyek prioritas nasional, dan UMKM dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Baca Juga: Bank Negara Indonesia (BNI) Tanggapi Pemangkasan Outlook Moody’s Jadi Negatif “BNI menyambut positif PINISI dari BI. Platform ini diharapkan dapat mempercepat penyaluran kredit ke sektor produktif karena mampu mengurangi ketidakseimbangan informasi dan memperpendek proses,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (1/5/2026). BNI menilai program ini berpotensi menjadi katalis pertumbuhan kredit ke depan. Meski demikian, perseroan tetap akan melakukan peninjauan target kredit 2026 dengan mempertimbangkan kualitas aset dan prinsip
prudent banking. Selain itu, Iqbal menyebut insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) dari BI telah memberikan dukungan signifikan dalam menyediakan likuiditas bagi sektor prioritas. BNI pun aktif memanfaatkan fasilitas tersebut dengan penyaluran yang terus meningkat, terutama ke sektor UMKM, hilirisasi, energi hijau, dan pariwisata.
Baca Juga: Bank Negara Indonesia (BBNI) Meraup Laba Rp 16,93 Triliun Pada Oktober 2025 Menurutnya, jika insentif KLM berfungsi sebagai pengungkit dari sisi suplai likuiditas, maka PINISI diharapkan dapat memperkuat sisi permintaan (demand) melalui penyediaan
pipeline proyek yang lebih jelas, sehingga dampaknya terhadap intermediasi menjadi lebih optimal. Ke depan, BNI akan memfokuskan penyaluran kredit pada sejumlah sektor strategis, antara lain hilirisasi sumber daya alam (SDA), ketahanan pangan dan energi, UMKM naik kelas, infrastruktur, serta sektor jasa produktif seperti kesehatan dan pariwisata. Di sisi lain, BNI tetap memperkuat pembiayaan di segmen
wholesale, khususnya BUMN dan korporasi top tier.
Iqbal menegaskan, BNI berkomitmen untuk terus meningkatkan penyaluran kredit yang berkualitas dan tepat sasaran, sekaligus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar implementasi PINISI berjalan efektif dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional.
Baca Juga: Laba Bank Negara Indonesia (BBNI) Januari 2026 di Rp 1,7 Triliun, Ini Rekomendasinya “Melalui sinergi yang kuat antara regulator, perbankan, dan pelaku usaha, kami optimistis program ini mampu mendorong pertumbuhan kredit yang berkelanjutan serta meningkatkan kepercayaan dunia usaha,” tandasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News