KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Bank of America (BofA) memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 mencapai 2,7% terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 2,4% PDB. ASEAN and India Chief Economist BofA Securities Rahul Bajoria menjelaskan, pemerintah berpotensi masih perlu menanggung selisih biaya yang timbul dari kebijakan perusahaan energi negara, dalam hal ini Pertamina, untuk tak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Rahul bilang pada dasarnya beban yang ditanggung badan usaha milik negara (BUMN) perlu diperhitungkan dalam melihat keseluruhan kondisi fiskal pemerintah.
Baca Juga: RI - Mesir Sepakati Empat Kerja Sama Bilateral, Cek Daftarnya! “Alasan kami tidak memperkirakan defisit fiskal turun sebesar yang diproyeksikan pemerintah adalah karena pemerintah kemungkinan masih harus menutup sebagian kekurangan pemulihan biaya yang ditanggung perusahaan minyak tahun depan,” ujar Rahul, dikutip Minggu (11/10/2026). Secara keseluruhan BofA memperkirakan defisit fiskal Indonesia pada 2026 mencapai 2,9% PDB, sebelum menyempit menjadi 2,7% PDB pada 2027. Rahul menilai, perbedaan proyeksi defisit dengan pemerintah perlu dilihat dalam konteks pengelolaan fiskal Indonesia secara lebih panjang. Ia menegaskan, pelebaran defisit tak serta-merta menjadi persoalan selama kualitas belanja pemerintah tetap terjaga dan mampu menghasilkan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Di luar itu, menurutnya rasio utang Indonesia yang berada di kisaran 41%-42% terhadap PDB belum menjadi persoalan utama bagi perekonomian. Namun, efektivitas belanja dan dampak pengganda atau multiplier effect dari pengeluaran pemerintah perlu menjadi perhatian. BofA menilai kebijakan fiskal Indonesia berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi secara bertahap. Rahul memperkirakan konsumsi dan investasi akan membaik, seiring meningkatnya efektivitas sejumlah program pemerintah. BofA memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,3% pada 2026 dan meningkat menjadi 5,5% pada 2027. Meski demikian, proyeksi tersebut masih di bawah estimasi pertumbuhan potensial Indonesia sebesar 5,8%-6,2% yang pernah disampaikan Bank Indonesia. Dari sisi inflasi, BofA memperkirakan inflasi rata-rata mencapai 3,3% pada 2026, sebelum turun menjadi 3% pada 2027. Meredanya tekanan harga energi dan dampak El Niño diperkirakan turut mendukung penurunan inflasi.
Baca Juga: Harga Minyak dan Suku Bunga Global Tinggi, Ketahanan Fiskal APBN 2026 Kian Diuji Di sisi lain, tekanan eksternal masih menjadi tantangan bagi pengelolaan fiskal dan pembiayaan Indonesia. BofA menyoroti tingginya suku bunga global serta harga minyak yang masih bergejolak sebagai faktor yang dapat memengaruhi biaya pendanaan dan kebutuhan pembiayaan kembali pemerintah. BofA memperkirakan Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga pada sisa 2026. Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan tekanan terhadap imbal hasil obligasi pemerintah, termasuk surat utang Indonesia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News