Bank of America Rilis Peringatan Keras soal Pasar Saham yang Sulit Diabaikan Investor



KONTAN.CO.ID - Bank of America (BofA) mengibarkan tanda bahaya yang cukup jelas bagi investor pasar obligasi dan siapa pun yang punya posisi di pasar saham.

Dalam catatan Flow Show terbarunya, Kepala Strategi Saham BofA Michael Hartnett menyebut era “apa pun selain obligasi” telah dimulai. Menurut dia, obligasi, yang selama ini dianggap aset paling aman—gagal menjalankan fungsinya.

The Street melaporkan, Hartnett menyebut paruh pertama dekade 2020-an sebagai periode “penghinaan pasar obligasi”, di mana obligasi pemerintah berdurasi panjang mengalami kerugian besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.


Data mendukung klaim tersebut. Obligasi pemerintah AS jangka panjang memang mencatat kerugian yang tidak biasa.

ETF iShares 20+ Year Treasury Bond, yang kerap dijadikan proksi obligasi jangka panjang, anjlok 31% pada 2022, salah satu kinerja terburuk sepanjang sejarahnya. Dari puncak 2020 hingga akhir 2025, penurunan terdalamnya mencapai hampir 48%.

Lalu, ke mana dana akan mengalir jika obligasi tak lagi mampu melindungi portofolio?

Jawaban BofA terbilang luas dan cukup berseberangan dengan arus utama.

Baca Juga: Ini Janji Manis Xi Jinping kepada Presiden Brasil di Tengah Tekanan Global

Hartnett memperkirakan paruh kedua dekade ini akan lebih menguntungkan bagi saham internasional, pasar negara berkembang, komoditas, dan emas. Pelemahan dolar AS dinilai akan mendorong reflasi di luar Amerika Serikat.

Dengan begitu, saham-saham AI yang mendominasi pasar dalam tiga tahun terakhir berpotensi kehilangan panggung. Sebaliknya, saham berkapitalisasi kecil dan menengah bisa mendapat momentum dari tren reshoring dan pembangunan ulang sektor industri.

BofA memperingatkan, pergeseran kepemimpinan pasar ini dapat menjadi tantangan besar bagi investor, seiring obligasi kehilangan peran sebagai aset lindung nilai.

Buku Pegangan Lama Investor Dinilai Tak Lagi Relevan

Peringatan BofA bukan semata soal mencari transaksi besar berikutnya, melainkan menyangkut fondasi utama portofolio investasi yang kini telah berubah.

Hartnett menilai obligasi, yang seharusnya menjadi “peredam guncangan”, gagal menjalankan peran utamanya. Akibatnya, investor dipaksa meninjau ulang cara mengelola risiko di seluruh pasar saham.

Menurutnya, proses peninjauan ulang itu sebenarnya sudah berlangsung.

Dolar yang melemah, harga komoditas yang menguat, serta reflasi di luar AS akan menguntungkan saham internasional dan pasar negara berkembang, yang selama ini tertinggal.

Sebagai gambaran, Indeks Dolar AS telah turun sekitar 9% dalam 12 bulan terakhir, bahkan hampir 2% hanya dalam lima hari terakhir, menurut MarketWatch.

Baca Juga: Peta Pasokan Bergeser: India Kini Borong Minyak dari Sumber Tak Terduga