Bank of America Turunkan Proyeksi Harga Minyak Brent ke Level US$ 82



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bank of America menurunkan proyeksi harga minyak Brent seiring ekspektasi pembukaan kembali Selat Hormuz. Pembukaan selat ini berpotensi meningkatkan pasokan minyak global dan menekan harga dalam jangka menengah.

Dalam catatan riset yang dirilis Rabu, Bank of America memperkirakan harga Brent rata-rata berada di level US$ 82 per barel pada tahun ini, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar US$93 per barel. Untuk paruh kedua tahun ini, harga Brent diperkirakan akan bergerak di kisaran US$70–US$80 per barel.

Penurunan proyeksi tersebut didorong oleh meningkatnya ekspektasi pasokan setelah kesepakatan sementara Amerika Serikat–Iran yang mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu titik transit utama minyak dan gas dunia.


Baca Juga: Israel Rilis Peta Pendudukan Lebanon Baru, Bahas Penempatan Pasukan dengan AS

Dalam skenario tersebut, sebuah memorandum 14 poin yang dibahas kedua pihak menetapkan periode negosiasi 60 hari, di mana Iran akan mengizinkan kapal melintas tanpa biaya. Kesepakatan itu juga mencakup rencana pemulihan penuh arus pelayaran dalam 30 hari.

Sejalan dengan itu, harga minyak global pada perdagangan Kamis turun ke level terendah sejak awal konflik Iran, setelah kesepakatan tersebut memperbaiki prospek pasokan energi global.

Bank of America juga memperkirakan pasar minyak akan mencatat defisit bersih sekitar 2,6 juta barel per hari pada 2026, berbalik dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan surplus 2 juta barel per hari sebelum perang.

Untuk jangka lebih panjang, bank tersebut memperkirakan harga Brent rata-rata berada di sekitar US$ 70 per barel pada 2027, meskipun pasar masih berpotensi mengalami surplus pasokan.

Sebelumnya, sejumlah bank besar seperti Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Citigroup juga telah memangkas proyeksi harga minyak mereka di tengah meningkatnya ekspektasi pasokan global.