KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Pembiayaan investasi pusat data (data center) di Indonesia berpotensi berkembang, seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital dan akal imitasi (AI). Namun, Bank of America (BofA) menilai, pendanaan proyek data center yang berkaitan dengan Indonesia sejauh ini masih banyak dihimpun melalui pasar keuangan regional. Indonesia Country Executive BofA Mira Arifin mengungkapkan, pihaknya belum banyak melihat transaksi pembiayaan langsung untuk proyek data center di Indonesia yang masuk melalui jaringan BofA. Ia bilang aktivitas yang lebih banyak terlihat sejauh ini berupa transaksi merger dan akuisisi (M&A). “Untuk pembiayaan, kami belum melihat banyak transaksi langsung dari Indonesia,” ujar Mira dalam pertemuan media, dikutip Minggu (11/10/2026).
Baca Juga: Ekuitas Lembaga Keuangan Mikro Turun 2,34% per Agustus 2026, Ini Kata Aslindo Mira menjelaskan, sejumlah transaksi data center yang melibatkan aset di Indonesia justru menjadi bagian dari skema investasi yang lebih besar di regional. Yang mana, penghimpunan dana dilakukan di luar negeri lalu dana tersebut digunakan untuk berinvestasi pada aset di Indonesia. BofA melihat Singapura justru berpotensi menjadi pusat keuangan untuk mendukung investasi data center di kawasan Asia Tenggara, dengan aset yang tersebar di berbagai negara. Dengan skema tersebut, investasi data center di Indonesia berpeluang lebih banyak masuk melalui penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI), ketimbang melalui penghimpunan dana secara langsung di pasar keuangan domestik. Mira menilai, penghimpunan dana di Singapura dan penyalurannya ke aset di Indonesia berkaitan dengan skala investasi yang belum cukup besar untuk mendorong pembiayaan secara langsung di Indonesia.
Tantangan Investasi Data Center
Di luar itu, BofA memandang daya tarik investasi data center tak cuman ditentukan oleh lokasi, tetapi juga oleh ketersediaan energi dan air. Kedua faktor tersebut menjadi pertimbangan penting bagi investor dalam menentukan lokasi pembangunan pusat data. Bank multinasional ini melihat kebutuhan data center yang dibangun di suatu negara tak selalu berasal dari permintaan domestik. Sebagian kapasitasnya bisa digunakan untuk melayani kebutuhan negara lain atau pasar ekspor.
Baca Juga: OJK Catat 136 LKM Berbadan Hukum Koperasi dan 99 PT per Agustus 2026 Karena itu, ketersediaan energi, terutama energi bersih dan terbarukan, menjadi salah satu faktor yang menentukan daya saing Indonesia dalam menarik investasi data center. Selain energi, ketersediaan air bersih juga menjadi kebutuhan penting dalam operasional pusat data. Sebab semakin besar kapasitas Indonesia dalam menyediakan energi terbarukan, semakin terbuka pula peluang untuk menarik investasi di sektor tersebut.
Meski demikian, besarnya investasi yang masuk tak serta-merta mencerminkan nilai tambah yang dinikmati oleh perekonomian domestik. Tingkat penyerapan nilai tambah akan bergantung pada seberapa besar komponen dan aktivitas produksi yang dapat dipenuhi di dalam negeri. Ambil contoh Malaysia yang memiliki industri manufaktur cip lebih besar. Jika dibandingkan, Indonesia masih harus mengimpor chip dan berbagai komponen penting lainnya untuk pembangunan data center sehingga intensitas impor proyek tersebut berpotensi lebih tinggi. Faktor konektivitas juga turut memengaruhi daya tarik kawasan. Kedekatan dengan Singapura, yang menjadi salah satu simpul kabel data internasional, dapat mendukung kebutuhan konektivitas dan menekan latensi layanan data center. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News