Bank of Japan Bakal Tunda Kenaikan Suku Bunga Hingga Juli Efek Konflik Timur Tengah



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Bank of Japan (BOJ) akan menunda rencana kenaikan suku bunga hingga Juni atau Juli 2026, seiring konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda dan terus memicu ketidakstabilan pasar global.

Pandangan tersebut disampaikan oleh mantan ekonom utama BOJ, Seisaku Kameda, dalam wawancara pada Jumat. Ia menilai eskalasi konflik di kawasan tersebut membuat bank sentral Jepang cenderung berhati-hati dalam mengambil kebijakan moneter.

Menurut Kameda, sebelum serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, BOJ kemungkinan telah mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada April. Hal ini tercermin dari pernyataan Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, yang sebelumnya memberi sinyal kesiapan menaikkan suku bunga lagi jika dampak kenaikan sebelumnya tidak terlalu membebani perekonomian.


Baca Juga: Harga Emas Naik Lagi di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Investor Berburu Aset Aman

Namun, Kameda menilai skenario tersebut bisa berubah tergantung perkembangan konflik.

“Jika konflik ternyata berlangsung singkat dan mereda dalam bulan ini, BOJ masih mungkin menaikkan suku bunga acuannya dari 0,75% menjadi 1,0% pada April,” ujarnya.

Meski demikian, dengan konflik yang belum menunjukkan tanda akan segera berakhir, BOJ kemungkinan memilih menunggu hingga sekitar Juni atau Juli untuk menghindari perubahan kebijakan di tengah volatilitas pasar yang tinggi.

Kameda menilai BOJ sebenarnya sudah tertinggal dalam merespons tekanan inflasi yang meningkat. Risiko keterlambatan tersebut bahkan bisa semakin besar jika harga minyak terus naik dan yen tetap melemah.

“BOJ sebenarnya sudah agak terlambat dalam menghadapi tekanan inflasi. Risiko keterlambatan bisa semakin meningkat dengan naiknya harga minyak dan melemahnya yen,” katanya.

Namun di tengah kondisi pasar yang masih gelisah dan kecilnya kemungkinan konflik segera berakhir, BOJ dinilai hampir tidak memiliki pilihan selain mempertahankan kebijakan saat ini.

BOJ sendiri mengakhiri stimulus moneter besar-besaran selama satu dekade pada 2024 dan sejak itu telah beberapa kali menaikkan suku bunga. Pada Desember 2025, bank sentral tersebut menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 0,75%, level tertinggi dalam sekitar 30 tahun.

Baca Juga: Serangan Iran ke Dubai Picu Investor Kaya Asia Pindahkan Dana ke Singapura

Dalam wawancara dengan media beberapa hari sebelum serangan AS ke Iran pada Sabtu lalu, Ueda mengatakan BOJ akan mencermati data ekonomi pada rapat kebijakan Maret dan April untuk menentukan apakah suku bunga perlu dinaikkan lagi.

Namun, volatilitas pasar akibat konflik meningkatkan kemungkinan BOJ menunda kenaikan suku bunga pada Maret, menurut sejumlah sumber Reuters. Meski pasar masih memperkirakan sekitar 60% peluang kenaikan suku bunga pada April, ketidakpastian akibat konflik membuat jalur pengetatan moneter BOJ semakin rumit.

Kameda juga menilai BOJ kemungkinan ingin menghindari terulangnya kejadian Juli 2024, ketika kenaikan suku bunga yang mengejutkan pasar memicu gejolak besar di pasar keuangan.

“Para pejabat BOJ telah mengatakan Jepang hampir mencapai target inflasi mereka. Jika bukan karena krisis di Iran, kemungkinan besar BOJ sudah menaikkan suku bunga pada April,” ujar Kameda.

Kameda, yang terlibat dalam penyusunan proyeksi ekonomi BOJ pada periode 2020–2022, saat ini menjabat sebagai ekonom eksekutif di Sompo Institute Plus.

TAG: