Bank of Japan pertahankan kebijakan, yen melaju



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Bank of Japan (BoJ) tetap mempertahankan kebijakan moneter membuat yen perkasa di hadapan mata uang utama lainnya. Selasa (23/1), pasangan USD/JPY terkikis 0,40% ke level 110,47. Serupa EUR/JPY anjlok 0,48% menjadi 135,36 dan pairing GBP/JPY menukik 0,62% ke posisi 154,181. 

Kemarin, hasil rapat BoJ memutuskan tetap mempertahankan suku bunga acuan minus 0,1%. Selain itu, target yield obligasi negara tenor 10 tahun masih di level 0%. 

Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda menambahkan, pembelian obligasi negara ¥ 80 triliun per tahun, setara US$ 720 miliar, tetap dilakukan. Padahal tahun lalu, realisasinya hanya ¥ 56 triliun saja. 


BoJ pun masih enggan merevisi target inflasi. Buktinya, bank sentral Jepang ini percaya diri target inflasi 2% bakal tercapai di tahun fiskal 2019 mendatang. 

Keperkasaan yen bertambah setelah aktivitas industri Jepang bulan November mencatat pertumbuhan 1%. Angka ini melebih ekspektasi yang hanya sebesar 0,9%.

Tak ayal, dollar Amerika Serikat (AS) pun terpaksa tunduk. Apalagi the greenback masih diselimuti ketidakpastian terkait anggaran pemerintahan Presiden Donald Trump. Tekanan ini membuat yen, yang merupakan aset lindung nilai, kembali diincar. 

"Gempa bumi yang melanda Alaska juga membuat dollar AS tertekan," kata Analis Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra. Kemarin, Alaska dihantam gempa berkekuatan 8,2 skala Richter dan berpotensi tsunami.

Namun, pairing ini berpotensi berbalik arah. "USD/JPY bisa kembali menguat karena putusan BoJ seharusnya menjadi sentimen negatif bagi yen," ujar Putu, kemarin. 

Sedang Analis Global Kapital Investama Berjangka Nizar Hilmy melihat posisi euro terhadap yen loyo karena EUR/JPY cenderung konsolidasi. Maklum, pairing ini telah bertengger di level tertingginya selama dua tahun.

Ke depan, pergerakan pairing ini akan ditentukan hasil pertemuan European Central Bank (ECB). Jika bank sentral Eropa akhirnya memberikan kejelasan mengenai tapering off atau pengurangan stimulus, maka potensi euro kembali perkasa terbuka lebar. Namun jika Gubernur ECB Mario Draghi malah menyampaikan pidato bernada dovish, posisi yen tak tergoyahkan

Setelah berhasil mencetak rekor tertinggi pada Senin (22/1), poundsterling ikut tertunduk di hadapan yen. Padahal, menurut Wahyu Tribowo Laksono, Analis Central Capital Futures, saat ini poundsterling masih dalam tren bullish

Kesepakatan yang terjalin antara Menteri Keuangan Spanyol dan Menteri Keuangan Belanda untuk mendorong kesepakatan Brexit masih menjadi katalis positif. Ditambah lagi, kebijakan moneter Bank of England (BoE) lebih hawkish dari Jepang. "Poundsterling kemungkinan akan rebound," imbuh dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati