KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perekonomian Indonesia diperkirakan tetap mampu mencatat pertumbuhan di atas 5% pada kuartal II-2026, meski lajunya melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Perlambatan dinilai lebih dipengaruhi faktor normalisasi musiman setelah lonjakan aktivitas ekonomi selama Ramadan dan Idulfitri pada kuartal pertama, di tengah tekanan dari pelemahan permintaan global. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,35% secara tahunan pada kuartal II-2026, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,61% pada kuartal I-2026.
Baca Juga: Ekspor Pertanian Meningkat, Pemerintah Diminta Susun Roadmap Hilirisasi Agro Menurut Josua, perlambatan tersebut terutama merupakan dampak normalisasi kalender karena Ramadan dan Idulfitri tahun ini seluruhnya berlangsung pada triwulan pertama. Sementara pada 2025, Idulfitri jatuh pada triwulan kedua sehingga menciptakan basis perbandingan yang tinggi. "Ketegangan Timur Tengah dan melemahnya permintaan dunia turut menahan ekspor," ujar Josua kepada Kontan, Selasa (4/8/2026). Meski demikian, Josua menilai pertumbuhan ekonomi masih relatif solid karena ditopang oleh permintaan domestik, belanja pemerintah, investasi, dan ekspansi kredit. Sebaliknya, kontribusi ekspor neto diperkirakan menjadi faktor yang menahan laju pertumbuhan. "Konsumsi rumah tangga diperkirakan masih tumbuh di atas 5% meskipun melambat setelah lonjakan pengeluaran selama Ramadan dan Idulfitri," katanya. Ia menjelaskan, konsumsi masih mendapat dukungan dari kebijakan pemerintah yang menjaga harga energi bersubsidi, membaiknya daya beli petani, serta meningkatnya pembelian kendaraan bermotor dan barang tahan lama. Data penjualan kendaraan juga menunjukkan perbaikan aktivitas konsumsi. Penjualan kendaraan secara
wholesale pada April-Juni 2026 mencapai sekitar 227,5 ribu unit atau tumbuh 32,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara penjualan ritel kepada konsumen meningkat 21,9% menjadi sekitar 221,9 ribu unit.
Baca Juga: Prabowo Tegaskan Pemegang IUPK Wajib Hilirisasi, Siap Ditindak Jika Membandel Namun, Josua mengingatkan bahwa pemulihan konsumsi belum merata. Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni yang turun menjadi 117,8 dari 120,9 pada Mei, meski masih berada di zona optimistis. Selain itu, penjualan eceran pada Mei masih mengalami kontraksi 3,9% secara tahunan. "Kelompok menengah bawah cenderung lebih berhati-hati dalam berbelanja, sementara penjualan kendaraan juga dipengaruhi insentif dan masuknya berbagai model baru," ujarnya. Di sisi investasi, Josua menilai kinerjanya menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi. Realisasi investasi pada kuartal II-2026 mencapai Rp 511,8 triliun atau tumbuh 7,1% secara tahunan, terdiri atas investasi dalam negeri sebesar Rp 254,1 triliun dan investasi asing Rp 257,7 triliun. Investasi tersebut juga menyerap sekitar 742 ribu tenaga kerja. Sektor konstruksi disebut mulai menguat seiring dimulainya berbagai proyek, sementara investasi terbesar mengalir ke industri logam dasar, transportasi, pergudangan, telekomunikasi, pertambangan, serta perdagangan. Dukungan juga datang dari sektor keuangan. Kredit perbankan pada Juni tumbuh 12,7% secara tahunan, meningkat dibandingkan 11,5% pada Mei. Survei Perbankan Bank Indonesia juga menunjukkan penyaluran kredit baru meningkat pada seluruh jenis penggunaan, baik modal kerja, investasi, maupun konsumsi.
Baca Juga: Ruang Fiskal Menipis, Ini Sektor yang Perlu Diprioritaskan dalam Anggaran 2027 Sementara itu, belanja pemerintah masih memberikan dorongan terhadap aktivitas ekonomi. Pada periode April-Juni 2026, belanja negara tumbuh 7%, sedangkan belanja pemerintah pusat meningkat 16,6%. Meski demikian, laju konsumsi pemerintah diperkirakan melambat dibandingkan kuartal pertama karena normalisasi pembayaran tunjangan hari raya (THR), bantuan sosial, dan belanja musiman lainnya. Josua juga mencatat sektor pertanian menjadi salah satu penopang pertumbuhan. Produksi beras pada Juni diperkirakan meningkat 6,96% secara tahunan, sedangkan produksi gabah kering giling naik 7,02%. Peningkatan produksi pangan tersebut dinilai membantu menjaga inflasi sekaligus memperkuat daya beli masyarakat di wilayah perdesaan. Di sisi lain, kondisi industri manufaktur menunjukkan gambaran yang beragam. Indeks manufaktur Bank Indonesia masih berada di zona ekspansi sebesar 51,43, sedangkan PMI Manufaktur S&P Global turun ke level 46,9 pada Juni yang menandakan kontraksi akibat melemahnya pesanan baru, permintaan ekspor, serta meningkatnya tekanan biaya produksi. Menurut Josua, kondisi tersebut menunjukkan industri berbasis proyek pemerintah, hilirisasi, makanan-minuman, dan logam masih bertumbuh, sementara industri padat karya yang bergantung pada konsumsi massal dan ekspor menghadapi tekanan lebih besar. Dari sisi eksternal, ia melihat kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan ekonomi semakin terbatas. Meskipun ekspor nonmigas pada April-Juni 2026 masih tumbuh 8,6% secara tahunan, impor melonjak 17,91%, sehingga neraca perdagangan mencatat defisit sekitar US$ 2 miliar pada kuartal II-2026.
Baca Juga: Purbaya: Kementerian yang Tak Sejalan Bisa Kena Pemotongan Anggaran Sebagian besar kenaikan impor berasal dari bahan baku yang meningkat 29,3% serta barang modal yang naik 15,1%. Menurut Josua, kondisi tersebut mencerminkan aktivitas produksi dan investasi yang meningkat, namun pada saat yang sama mengurangi kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). "Pertumbuhan sekitar 5,35% merupakan capaian yang cukup kuat, tetapi belum mencerminkan percepatan yang sepenuhnya sehat dan merata," imbuhnya Josua menilai, pertumbuhan masih sangat bergantung pada konsumsi, perluasan kredit, investasi hilirisasi, dan belanja pemerintah. Sebaliknya, manufaktur padat karya, penjualan eceran, daya beli kelompok menengah, dan ekspor masih menghadapi tekanan. Secara keseluruhan 2025, Josua memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh pada kisaran 5,2%-5,4%, lebih tinggi dibandingkan realisasi 5,11% pada 2025.
Namun, pertumbuhan pada semester kedua diperkirakan akan melambat secara bertahap akibat tekanan global, ruang fiskal yang semakin terbatas, serta melemahnya kontribusi ekspor neto. Karena itu, Josua menilai pemerintah perlu mengarahkan belanja pada sektor-sektor produktif seperti infrastruktur, pangan, transportasi, serta penguatan industri pemasok domestik agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertahan di atas 5%, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Baca Juga: Purbaya: Likuiditas Bank Akan Ditambah untuk Percepat Pemulihan Ekonomi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News