KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kredit usaha mikro masih mengalami tekanan dalam penyalurannya. Meski begitu, sejumlah bank tetap optimistis akan adanya pertumbuhan secara bertahap seiring dengan pemulihan daya beli masyarakat. Dari data statistik BI terakhir, pertumbuhan kredit usaha mikro perbankan masih belum dalam kondisi baik. Pada November 2025, pertumbuhan kredit usaha mikro justru mengalami penurunan sebesar 5,52% secara tahunan (yoy). Dalam segmentasi kredit yang lebih luas lagi, yakni segmen kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga masih belum menunjukkan adanya tanda pertumbuhan yang sehat.
Pasalnya, kredit UMKM juga mencatatkan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang cukup tinggi.
Baca Juga: 20 Asuransi Belum Spin Off UUS, OJK Ungkap Tantangan Besar Industri Berdasarkan Asesmen Transmisi SBDK RDG Maret 2026, rasio NPL kredit UMKM perbankan berada di angka 4,68% atau naik 8 bps dari Januari 2026. Angka NPL tersebut semakin mendekati batas bahaya di angka rasio 5%. Salah satu bank yang tetap menunjukkan komitmennya di kredit mikro adalah PT Bank Sahabat Sampoerna Tbk (Bank Sampoerna). Sampai saat ini, mayoritas portofolio kredit Bank Sampoerna diisi oleh pelaku usaha. Direktur Finance & Business Planning Bank Sampoerna Henky Suryaputra menegaskan keyakinan Bank Sampoerna untuk terus mendukung UMKM Indonesia. Hingga saat ini, porsi kredit UMKM Bank Sampoerna mencapai sekitar 64% dari total kredit. "Jumlah ini relatif meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya," kata Henky kepada Kontan, Rabu (25/3/2026). Adapun dari data laporan keuangannya, Bank Sampoerna sampai Februari 2026 tercatat menyalurkan kredit sebanyak Rp 11,058 triliun. Bila dibandingkan dengan jumlah kredit setahun sebelumnya, di Februari 2025, angka tersebut turun 7,26%. "Kami melihat sentimen positif dari pemulihan ekonomi domestik, meskipun pertumbuhan kredit UMKM di industri secara umum masih relatif terbatas," kata Henky.
Baca Juga: Unitlink Pendapatan Tetap Tertekan, Ini 10 Produk Return Tertinggi pada Februari 2026 Sementara itu, PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) juga menyampaikan optimisme senada. Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, melihat kredit mikro dan ultra mikro memiliki potensi untuk bertumbuh. "Ke depan, kami melihat segmen mikro dan ultra mikro masih memiliki potensi pertumbuhan. Namun, pertumbuhan tersebut diperkirakan akan berlangsung secara bertahap," kata Kunardy saat dihubungi, Rabu (18/3/2026). Kunardy menyebut, KB Bank juga mengalami perlambatan dalam penyaluran kredit di segmen mikro awal tahun ini. Menurutnya, itu terjadi akibat daya beli masyarakat yang masih belum pulih, efek sentimen global, serta faktor musiman. Namun begitu, KB Bank menegaskan komitmennya dalam menumbuhkan penyaluran kredit mikro melalui bekerja sama dengan PT Pemodalan Nasional Madani Tbk (PNM). Dalam kerja sama ini, KB Bank mengucurkan dana senilai Rp 500 miliar kepada PNM dengan maksud untuk memperluas akses pembiayaan.
Baca Juga: OJK Siapkan Panduan Transition Finance, Jaga Stabilitas di Tengah Dekarbonisasi Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung berbagai program pemberdayaan ekonomi PNM,
termasuk Mekaar atau Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera, yang menyasar perempuan prasejahtera di berbagai wilayah Indonesia. "
Kami mengedepankan pendekatan kemitraan yang memungkinkan KB Bank untuk tetap berkontribusi dalam perluasan akses pembiayaan, dengan tetap menjaga profil risiko secara prudent," ujar Kunardy. Bank Sampoerna dan KB Bank sama-sama menilai kredit usaha mikro ke depannya dapat tumbuh bertahap dengan syarat adanya pemulihan daya beli dan kondisi ekonomi masyarakat. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News