KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Sahabat Sampoerna tetap optimistis mampu menjaga pertumbuhan bisnis hingga akhir 2026 meski perekonomian masih dibayangi berbagai tantangan. Direktur Keuangan dan Perencanaan Bisnis Bank Sahabat Sampoerna Henky Suryaputra mengatakan, kinerja perseroan sepanjang semester I-2026 masih sejalan dengan target yang telah ditetapkan. "Sepanjang semester I berjalan, kinerja Bank Sampoerna tetap solid dan konsisten dengan tren positif di lima bulan pertama," ujar Henky kepada Kontan.co.id, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, salah satu pendorong utama kinerja perseroan adalah transformasi digital yang dipadukan dengan kolaborasi bersama berbagai mitra, seperti perusahaan teknologi finansial (fintech) dan koperasi.
Baca Juga: CNAF Terbitkan Obligasi Rp 200 Miliar dan Sukuk Rp 900 Miliar pada Semester I-2026 Strategi tersebut dinilai efektif memperluas penyaluran kredit kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang hingga kini masih mencatatkan permintaan pembiayaan yang kuat. "Transformasi digital dan kolaborasi ekosistem, seperti dengan fintech dan koperasi, efektif memperluas penyaluran kredit ke sektor UMKM yang permintaannya masih cukup kuat di tengah dinamika makroekonomi," katanya. Henky mengakui, ketidakpastian ekonomi global masih menjadi tantangan bagi industri perbankan. Kendati demikian, Bank Sahabat Sampoerna tetap optimistis memasuki semester II-2026 dan menargetkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) maupun kredit tetap terjaga hingga akhir tahun. Untuk memastikan target tersebut tercapai, perseroan secara berkala melakukan
stress testing serta mengevaluasi kembali asumsi dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) agar tetap realistis dan mengedepankan prinsip kehati-hatian. "RBB selalu kami tinjau kembali melalui
stress testing agar target yang ditetapkan tetap realistis sekaligus pruden," ujarnya. Henky menjelaskan, terdapat tiga strategi utama yang akan dijalankan Bank Sahabat Sampoerna untuk menjaga pertumbuhan bisnis.
Pertama, memperluas kemitraan strategis melalui kolaborasi digital guna menjangkau lebih banyak pelaku UMKM secara efisien.
Kedua, memperkuat manajemen risiko dengan meningkatkan kualitas penyaluran kredit dan penyempurnaan sistem
credit scoring agar rasio kredit bermasalah (
non-performing loan atau NPL) tetap terkendali.
Baca Juga: OJK Ingatkan Penarikan Dana SAL Harus Dilakukan Terukur Ketiga, meningkatkan porsi dana murah (
current account saving account atau CASA) melalui penguatan layanan digital, termasuk aplikasi Sampoerna Mobile Banking, sehingga biaya dana (
cost of fund) dapat tetap terjaga.
Dari sisi kinerja, hingga Mei 2026 Bank Sahabat Sampoerna membukukan laba bersih sebesar Rp 11,86 miliar, tumbuh 17,68% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 10,08 miliar. Di sisi intermediasi, penyaluran kredit tercatat sebesar Rp 10,93 triliun, turun 5,38% YoY. Sementara itu, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 0,63% YoY menjadi Rp 13,05 triliun. Henky optimistis, strategi digitalisasi dan kolaborasi yang terus diperkuat akan menjadi modal bagi perseroan untuk mempertahankan pertumbuhan bisnis hingga akhir tahun, sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM di tengah dinamika ekonomi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News