KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank Sahabat Sampoerna mencatatkan perbaikan kualitas kredit pada kuartal III 2026. Rasio kredit bermasalah atau
non-performing loan (NPL) gross Bank Sampoerna tercatat sebesar 2,87%, turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,12%. Direktur Finance & Business Planning Bank Sahabat Sampoerna Henky Suryaputra mengatakan, perbaikan tersebut mencerminkan kualitas aset perseroan yang tetap terjaga di tengah berbagai tantangan ekonomi. "Secara umum, kualitas aset di Bank Sampoerna tetap terjaga dengan sehat dan terkendali sepanjang kuartal III ini," ujar Henky kepada kontan.co.id, Rabu (4/11/2026).
Baca Juga: Penyaluran Pembiayaan Industri Pergadaian Tumbuh 34,93% per September 2026 Di sisi lain, penyaluran kredit ke segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih mendominasi portofolio kredit perseroan. Porsinya mencapai hampir 60% dari total keseluruhan kredit Bank Sampoerna. Henky mengakui, risiko kenaikan kredit bermasalah di industri perbankan masih ada akibat tekanan inflasi dan penyesuaian biaya pendanaan. Namun, perseroan optimistis tren NPL UMKM ke depan akan cenderung melandai. "Kami optimistis tren NPL UMKM akan cenderung melandai (
plateauing) atau bahkan menunjukkan ruang perbaikan lanjutan," katanya. Untuk menjaga kualitas kredit, Bank Sampoerna berkomitmen menerapkan prinsip kehati-hatian atau
prudential banking. Bank Sampoerna juga menargetkan rasio NPL secara keseluruhan tetap berada di bawah ketentuan regulator. Henky menjelaskan, salah satu strategi yang dilakukan adalah memperketat penerapan
early warning system (EWS). Melalui sistem ini, perseroan memantau kesehatan keuangan dan pola pembayaran debitur secara berkala dengan memanfaatkan analitik data. Langkah tersebut dilakukan untuk mendeteksi potensi penurunan kualitas kredit lebih awal sebelum debitur masuk dalam kategori kredit bermasalah. Selain itu, Bank Sampoerna menerapkan pendekatan
high-touch melalui pendampingan langsung kepada debitur yang mengalami kesulitan pembayaran.
Baca Juga: BTN Sebut Permintaan Special Rate Deposito Masih Tinggi, Beri Bunga di Atas 4% "Kami tidak langsung mengambil langkah hukum atau eksekusi saat debitur mengalami kendala sementara. Tim
account officer kami secara aktif mendampingi debitur, memberikan konsultasi bisnis, serta menawarkan solusi restrukturisasi yang sehat dan sesuai dengan kapasitas arus kas riil mereka," jelas Henky. Bank Sampoerna juga memperketat selektivitas penyaluran kredit baru dengan memprioritaskan sektor UMKM yang memiliki daya tahan tinggi terhadap fluktuasi ekonomi. Sektor tersebut antara lain rantai pasok esensial, perdagangan kebutuhan pokok, serta sektor produktif berorientasi domestik. Di samping itu, perseroan memperkuat digitalisasi proses kredit. Pemanfaatan teknologi dalam asesmen kredit diharapkan dapat meningkatkan akurasi penilaian karakter dan kapasitas calon debitur sehingga proses penyaluran kredit menjadi lebih objektif dan efisien. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News