Bank Sampoerna Perkuat Mitigasi Risiko Untuk Jaga Kualitas Kredit UMKM



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank Sahabat Sampoerna tetap mengedepankan pertumbuhan kredit yang berkualitas di tengah meningkatnya tekanan terhadap kualitas kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Direktur Keuangan dan Perencanaan Bisnis Bank Sahabat Sampoerna Henky Suryaputra mengakui, pelemahan daya beli masyarakat pascapandemi dan dinamika ekonomi global masih menjadi tantangan bagi pelaku UMKM.

Kondisi tersebut juga tercermin dari tren kenaikan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) UMKM secara industri.


"Secara industri memang ada tren kenaikan rasio kredit bermasalah. Di Bank Sampoerna sendiri, berkat mitigasi yang prudent, porsi kredit bermasalah kami tetap berada dalam batas risk appetite yang telah disetujui regulator dan manajemen," ujar Henky kepada Kontan.co.id, Jumat (26/6/2026).

Baca Juga: Bank Sampoerna Tawarkan Deposito Online: Modal Mulai Rp 1 Juta, Bunga Lebih Tinggi

Ia menuturkan, hingga akhir Maret 2026 rasio NPL gross Bank Sahabat Sampoerna tercatat sebesar 4,51%, membaik dibandingkan posisi Maret 2025 yang sebesar 4,81%.

Sementara itu, NPL net berada di level 2,70%, sedikit meningkat dibandingkan 2,64% pada periode yang sama tahun lalu.

Henky menegaskan, langkah paling efektif menekan kenaikan NPL bukan dilakukan saat kredit sudah bermasalah, melainkan sejak tahap awal melalui pengawasan yang lebih ketat terhadap debitur.

"Sebagai bank yang fokus pada UMKM, komitmen kami terhadap prinsip kehati-hatian sangat tinggi. Rasio pencadangan atau NPL coverage ratio terus kami jaga pada level yang sangat baik agar volatilitas ekonomi tidak langsung mengganggu kesehatan modal inti maupun profitabilitas perseroan," jelasnya.

Karena itu, Bank Sahabat Sampoerna terus memperkuat sistem monitoring berbasis data analitik dan early warning system agar potensi penurunan kualitas kredit dapat dideteksi lebih dini.

Dengan pendekatan tersebut, langkah restrukturisasi maupun pendampingan usaha dapat dilakukan sebelum kredit masuk kategori bermasalah.

Baca Juga: Bank Sampoerna Genjot Porsi Kredit UMKM, Porsinya Capai 59% dari Portofolio Kuartal I

Di sisi penyaluran kredit, komitmen Bank Sahabat Sampoerna terhadap sektor UMKM tidak berubah. Hingga Maret 2026, sekitar 59% dari total portofolio kredit perseroan senilai Rp 11 triliun masih disalurkan kepada segmen UMKM, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Henky menyebut, pertumbuhan kredit tersebut ditopang strategi kolaborasi digital melalui model Bank-as-a-Service (BaaS). Perseroan menggandeng lebih dari 50 mitra strategis yang terdiri dari perusahaan fintech lending, multifinance, koperasi, hingga lembaga keuangan lokal.

"Kolaborasi tersebut memungkinkan kami menjangkau pelaku UMKM di berbagai daerah yang belum terlayani secara optimal oleh perbankan konvensional," katanya.

Hingga akhir 2026, Bank Sahabat Sampoerna memilih mengejar pertumbuhan kredit yang moderat namun berkualitas. "Kami lebih memilih bertumbuh secara sehat daripada agresif namun mengorbankan kualitas aset," tegas Henky.

Untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan pengelolaan risiko, perseroan mengandalkan dua strategi utama. Pertama, mempercepat kolaborasi ekosistem digital guna memperluas penyaluran kredit UMKM.

Baca Juga: Bank Sampoerna Bukukan Aset Rp 18,2 Triliun paca 2025, DPK Capai Rp 13,44 Triliun

Kedua, memperkuat mitigasi risiko berbasis teknologi melalui pemanfaatan data-driven underwriting dan early warning system secara real time.

Menurut Henky, strategi tersebut memungkinkan Bank Sahabat Sampoerna mendeteksi penurunan kapasitas bayar debitur lebih cepat sehingga langkah penanganan dapat dilakukan lebih dini.

"Dengan pendekatan tersebut, kami optimistis mampu menjaga pertumbuhan kredit yang sehat sekaligus mempertahankan kualitas aset di tengah tantangan yang masih membayangi sektor UMKM," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News