Bank Sentral Borong Emas, Tren Bullish Jangka Panjang Masih Terjaga



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas spot masih bergerak dalam tekanan setelah mencatat penguatan besar.

Namun, koreksi tersebut dinilai belum mengubah tren jangka panjang emas yang masih ditopang pembelian bank sentral global dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Trading Economics, Selasa (15/9/2026) pukul 18.00 WIB, harga emas spot berada di US$ 4.280 per ons troi, turun 0,42% secara harian. Dalam sepekan, harga emas telah terkoreksi 1,49%, sedangkan secara bulanan melemah 2,83%.


Baca Juga: Bank Sentral Borong Emas Lagi, Sinyal Dedolarisasi Makin Kuat

Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai emas saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah mencatat reli yang cukup besar. Meski terkoreksi, tren jangka panjang emas masih berada dalam jalur penguatan.

“Tren jangka panjang emas secara struktural masih berada dalam koridor secular bull market, tetapi saat ini tengah mengalami fase koreksi konsolidatif yang sehat setelah penguatan masif sebelumnya,” ujar Wahyu kepada Kontan, Selasa (15/9/2026).

Menurut dia, salah satu penopang utama harga emas adalah pembelian fisik oleh bank sentral global. Langkah diversifikasi cadangan dan pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS atau de-dollarization membuat permintaan emas tetap kuat.

Selain itu, risiko fiskal AS juga menjadi faktor yang berpotensi menjaga daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Beban bunga utang pemerintah federal AS yang besar dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal negara tersebut.

Wahyu juga melihat risiko eskalasi konflik energi di Timur Tengah sebagai faktor yang dapat meningkatkan permintaan terhadap aset aman, termasuk emas.

Baca Juga: Melonjak 62%, Bank Sentral Global Borong Emas 289 Ton pada Kuartal II – 2026

“Faktor penopangnya antara lain pembelian fisik tanpa henti oleh bank-bank sentral global, kekhawatiran eskalasi perang energi di Timur Tengah, serta risiko kebocoran fiskal akibat beban bunga utang pemerintah federal AS,” katanya.

Meski demikian, ruang penguatan emas masih menghadapi sejumlah hambatan. Suku bunga yang relatif tinggi, kenaikan imbal hasil obligasi, serta penguatan dolar AS dapat menekan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Karena itu, pergerakan harga emas diperkirakan masih volatil hingga akhir tahun. Namun, jika fase konsolidasi berakhir dan arah kebijakan The Fed mulai bergeser menuju pelonggaran moneter, peluang emas untuk kembali menguji level tertinggi semakin terbuka.

Wahyu memproyeksikan harga emas spot berpotensi mencapai kisaran US$ 4.500-US$ 4.800 hingga US$ 5.000 per ons troi pada akhir 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News