Bank Sentral Brasil Pangkas Suku Bunga Lagi, Sinyalkan Peluang Pelonggaran Lanjutan



KONTAN.CO.ID - Bank sentral Brasil kembali memangkas suku bunga acuan pada rapat kebijakan bulan Juni 2026. Ini menjadi pemangkasan ketiga secara beruntun di tengah perlambatan ekonomi, meski tekanan inflasi dan risiko fiskal menjelang pemilu masih membayangi.

Melansir Reuters Komite Kebijakan Moneter Bank Sentral Brasil (Copom) pada Rabu (17/6/2026) secara bulat memangkas suku bunga acuan Selic sebesar 25 basis poin menjadi 14,25%.

Baca Juga: Saham Inggris Turun Tipis, Investor Menanti Keputusan Bank of England


Keputusan tersebut sejalan dengan ekspektasi mayoritas ekonom yang disurvei Reuters. Dari 45 ekonom yang disurvei, sebanyak 41 memperkirakan bank sentral akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin.

Dalam pernyataan resminya, Copom tidak memberikan panduan tegas mengenai langkah berikutnya, namun tetap membuka ruang untuk pelonggaran kebijakan lanjutan.

"Komite menegaskan bahwa besaran keseluruhan siklus penyesuaian suku bunga akan ditentukan berdasarkan informasi baru yang tersedia," tulis Copom.

Meski kembali memangkas suku bunga, bank sentral mengakui prospek inflasi menjadi semakin menantang.

Tekanan harga meningkat akibat lonjakan harga energi yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah serta kebijakan fiskal ekspansif pemerintah menjelang pemilihan presiden Oktober mendatang.

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva dalam beberapa bulan terakhir meluncurkan berbagai program yang mendorong konsumsi rumah tangga sebagai bagian dari strategi menjelang pemilu.

Bank sentral menilai stimulus ekonomi tersebut berpotensi melemahkan efektivitas transmisi kebijakan moneter dalam mengendalikan inflasi.

Baca Juga: China Genjot IPO Sektor AI dan Kuantum di Tengah Tren Global, Investor Perlu Tahu

Proyeksi Inflasi Naik

Bank sentral Brasil juga merevisi naik proyeksi inflasi untuk beberapa tahun ke depan.

Untuk kuartal IV 2027, yang menjadi horizon kebijakan utama saat ini, inflasi diperkirakan mencapai 3,7%, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 3,5%. Angka tersebut masih berada di atas target inflasi resmi sebesar 3%.

Sementara itu, proyeksi inflasi sepanjang 2026 dinaikkan menjadi 5,2% dari sebelumnya 4,6%.

Baca Juga: Era Warsh Dimulai, The Fed Tinggalkan Forward Guidance dan Lebih Hawkish

Ekonom Universitas Sao Paulo (USP) Jose Francisco Goncalves menilai, bank sentral sebenarnya ingin menyampaikan bahwa pengetatan moneter yang dilakukan sebelumnya sudah cukup untuk membawa inflasi kembali ke target dalam jangka menengah.

"Mereka pada dasarnya mengatakan bahwa kebijakan moneter yang telah dilakukan saat ini sudah cukup untuk mengembalikan inflasi ke target. Kecepatan penurunan Selic selanjutnya akan sangat bergantung pada kondisi global," ujarnya.

Di sisi lain, Senior Emerging Markets Economist Capital Economics Liam Peach menilai pernyataan bank sentral menunjukkan keinginan untuk tetap membuka peluang pemangkasan suku bunga meski risiko inflasi meningkat.

Menurutnya, siklus pelonggaran moneter Brasil berpotensi berlangsung tidak beraturan dan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi ke depan.

Ia memperkirakan bank sentral masih akan memangkas suku bunga total 50 basis poin dalam empat pertemuan berikutnya sehingga Selic dapat turun ke level 13,75% pada akhir tahun.

Baca Juga: Hasil Inggris vs Kroasia 4-2: Harry Kane Samai Rekor Gary Lineker

Risiko Inflasi Masih Tinggi

Sejak mulai memangkas suku bunga pada Maret lalu, bank sentral berargumen bahwa dampak pengetatan agresif sebelumnya sudah terlihat pada perlambatan aktivitas ekonomi dan pertumbuhan kredit.

Namun sejak rapat terakhir pada April, sejumlah faktor baru meningkatkan risiko inflasi.

Baca Juga: Pernyataan Hasil FOMC The Fed (17 Juni 2026)

Inflasi tahunan Brasil tercatat naik menjadi 4,72% pada Mei 2026. Ekspektasi inflasi pasar untuk 2026, 2027, hingga 2028 juga terus meningkat, mencerminkan keraguan pelaku pasar terhadap kemampuan bank sentral menjaga stabilitas harga dalam jangka panjang.

Gubernur Bank Sentral Brasil Gabriel Galipolo sebelumnya juga memperingatkan potensi kemunculan fenomena cuaca El Nino yang dapat memicu kenaikan harga pangan dan menambah tekanan inflasi dari sisi pasokan.

Selain itu, ekonom turut mencermati rancangan undang-undang yang tengah dibahas parlemen untuk menjamin pekerja memperoleh dua hari libur setiap pekan.

Kebijakan tersebut dinilai berpotensi meningkatkan biaya tenaga kerja dan mendorong kenaikan harga di tengah pasar tenaga kerja yang masih ketat.

Kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran moneter Brasil ke depan diperkirakan semakin terbatas meski suku bunga acuan masih berada pada level tertinggi di antara negara-negara ekonomi besar dunia.