Bank Sentral Eropa (ECB) Tahan Suku Bunga, Isyaratkan Kebijakan Tetap Stabil



KONTAN.CO.ID - Bank Sentral Eropa (ECB) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya, sesuai ekspektasi pasar, dan tidak memberikan sinyal arah kebijakan selanjutnya pada Kamis (5/2/2026).

Sikap ini memperkuat keyakinan investor bahwa kebijakan moneter akan tetap stabil dalam beberapa waktu ke depan, seiring pertumbuhan ekonomi zona euro yang solid dan inflasi yang mendekati target.

ECB telah menahan suku bunga sejak mengakhiri siklus penurunan suku bunga selama satu tahun pada Juni lalu.


Baca Juga: BoE Tahan Suku Bunga 3,75%, Voting Ketat Buka Peluang Pemangkasan Tahun Ini

Pertumbuhan ekonomi yang lebih tangguh dari perkiraan serta tekanan harga yang mereda membuat urgensi untuk stimulus tambahan hampir sepenuhnya menghilang.

Dalam kondisi yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai nirvana bagi bank sentral, ECB juga menghindari memberi petunjuk mengenai langkah kebijakan berikutnya, menandakan bahwa pembahasan perubahan arah kebijakan belum akan terjadi dalam waktu dekat.

“Perekonomian tetap tangguh di tengah lingkungan global yang menantang,” kata ECB dalam pernyataannya.

Namun, bank sentral juga menegaskan bahwa prospek ke depan masih diselimuti ketidakpastian, terutama akibat kebijakan perdagangan global dan ketegangan geopolitik.

ECB menambahkan bahwa asesmen terbarunya kembali menegaskan inflasi akan menetap di target 2% dalam jangka menengah.

Baca Juga: Diskon Minyak Rusia ke China Pecahkan Rekor, Imbas Potensi Setop Impor India

Volatilitas Pasar Bayangi “Posisi Nyaman” ECB

Perhatian pasar kini tertuju pada konferensi pers Presiden ECB Christine Lagarde pukul 13.45 GMT.

Lagarde diperkirakan kembali menegaskan bahwa kebijakan moneter saat ini berada di “posisi yang baik”, sehingga belum ada alasan untuk mendiskusikan arah perubahan kebijakan, kapan pun itu terjadi.

ECB menegaskan akan tetap berpegang pada pendekatan berbasis data dan pertemuan demi pertemuan dalam menentukan sikap kebijakan moneternya.

Pertemuan kali ini juga menjadi yang pertama sejak Bulgaria resmi bergabung dengan zona euro.

Baca Juga: Emas dan Perak Rontok Kamis (5/2) Sore, Dolar AS Perkasa dan TensI AS-China Mereda

Lagarde kemungkinan akan mendapat pertanyaan terkait volatilitas pasar keuangan, khususnya dampak pelemahan dolar AS pekan lalu yang diikuti rebound tajam, terhadap prospek ekonomi kawasan.

Penguatan euro terhadap dolar pada dasarnya menurunkan biaya impor terutama energi dan menekan inflasi, di saat inflasi justru sudah berada di bawah target, meski bersifat sementara.

Inflasi zona euro turun menjadi 1,7% pada Januari, dipicu oleh penurunan harga energi, dan berpotensi turun lebih jauh sebelum diperkirakan kembali naik tahun depan.

Kondisi ini mengingatkan pada perjuangan panjang ECB melawan inflasi rendah pada dekade sebelum pandemi COVID-19.

Namun, pergerakan dolar dinilai belum menjadi faktor penentu. Lagarde diperkirakan kembali menegaskan bahwa nilai tukar hanyalah salah satu variabel dalam proyeksi inflasi dan bukan target kebijakan ECB.

Baca Juga: Malaysia Menjadi Magnet Investor Global Berkat Ekonomi Stabil dan Penguatan Ringgit

Dengan pelemahan dolar yang mulai berbalik dalam beberapa hari terakhir, euro justru tercatat lebih lemah secara trade-weighted dibandingkan saat pertemuan ECB Desember lalu.

Hal ini memperkuat ekspektasi pasar dan ekonom bahwa tidak akan ada perubahan suku bunga sepanjang 2026, dengan potensi pengetatan kebijakan baru muncul pada 2027.

Bahkan, ekspektasi inflasi jangka panjang justru perlahan meningkat, didorong oleh aktivitas ekonomi yang solid dan kenaikan harga energi.

Tantangan Daya Saing Eropa

Lagarde juga diperkirakan menyoroti data pertumbuhan ekonomi yang sehat, tingkat pengangguran yang rendah secara historis, serta pertumbuhan upah yang solid sebagai dasar nada optimistis ECB.

Zona euro terbukti cukup tangguh menghadapi ketegangan perdagangan global, dengan konsumsi domestik mampu menutupi lemahnya ekspor dan lesunya produksi industri.

Tingginya tingkat tabungan rumah tangga dan kuatnya pasar tenaga kerja diperkirakan akan terus menopang pertumbuhan.

Baca Juga: Harga Logam Mulia dan Minyak Kompak Melemah, Terseret Ketegangan Global yang Mereda

Rencana pemerintah Jerman untuk meningkatkan belanja pertahanan dan infrastruktur juga dipandang memberi dorongan tambahan bagi ekonomi kawasan.

“Lintasan kebijakan moneter pada 2026 akan ditentukan oleh siapa yang menang antara faktor eksternal dan kondisi domestik,” tulis Deutsche Bank dalam analisanya.

“Skenario dasar kami mengasumsikan ketahanan domestik akan mendominasi, yang mengarah pada kenaikan suku bunga pada 2027.”

Meski demikian, risiko masih terbuka ke arah sebaliknya. Jika inflasi berada di bawah target terlalu lama hingga menyeret ekspektasi inflasi turun di bawah 2%, para pembuat kebijakan bisa kembali dipaksa untuk memberikan stimulus tambahan.

Selanjutnya: OJK Targetkan Penghimpunan Dana di Pasar Modal Capai Rp 250 Triliun

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Jumat 6 Februari 2026, Keadaan Harmonis