Bank Sentral India Tahan Suku Bunga di Level 5,25%, Saat Rupee Melemah



KONTAN.CO.ID - MUMBAI. Bank Sentral India alias Reserve Bank of India (RBI) pada Jumat (5/6/2026) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (repo rate) di level 5,25%, memilih untuk mengabaikan pelemahan rupee sementara dan menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai dampak kenaikan harga energi global terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Hampir 80% dari 56 ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan RBI akan menahan suku bunga. Keputusan tersebut juga diambil secara bulat oleh seluruh enam anggota komite kebijakan moneter (MPC), yang terdiri dari tiga pejabat bank sentral dan tiga anggota eksternal, dengan mempertahankan sikap kebijakan netral.

Gubernur RBI Sanjay Malhotra mengatakan bank sentral mencatat bahwa kondisi ekonomi global telah memburuk, sehingga diperlukan kehati-hatian dalam menentukan arah kebijakan.


Baca Juga: Perjalanan Luar Negeri Perdana Xi Jinping di 2026: Kunjungi Korea Utara Pekan Depan

“Dewan menilai lebih bijaksana untuk menunggu hingga muncul kejelasan yang lebih besar,” ujarnya saat mengumumkan keputusan tersebut. Ia juga menambahkan bahwa inflasi diperkirakan meningkat, meski tekanan harga dasar masih relatif terkendali.

RBI merevisi proyeksi ekonominya untuk tahun fiskal berjalan. Inflasi ritel rata-rata kini diperkirakan mencapai 5,1%, naik dari proyeksi sebelumnya 4,6%, sementara inflasi inti direvisi menjadi 4,7% dari sebelumnya 4,4%.

Meski demikian, inflasi India masih berada dalam kisaran toleransi bank sentral 2%–6%, dengan target tengah sebesar 4%, sehingga RBI masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga.

Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi justru diturunkan menjadi 6,6%, dari sebelumnya 6,9%. Pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026, ekonomi India diperkirakan tumbuh 7,6%, dengan data resmi akan dirilis pada hari yang sama.

Malhotra menyebut risiko global dan kemungkinan melemahnya musim monsun dapat menjadi faktor yang menekan pertumbuhan ke depan, meskipun indikator ekonomi frekuensi tinggi seperti produksi industri dan indeks manufaktur masih menunjukkan momentum yang stabil.

Keputusan RBI muncul di tengah tekanan global akibat lonjakan harga minyak dan arus keluar dana asing yang menekan nilai tukar rupee hingga mendekati rekor terendah, turun hampir 5% sejak konflik di kawasan Teluk meningkat pada Februari.

Meski ada tekanan pada mata uang, pasar keuangan bereaksi relatif tenang. Imbal hasil obligasi pemerintah India tenor 10 tahun turun tipis ke 6,96%, sementara rupee melemah ringan ke 96,72 per dolar AS. Indeks saham utama justru menguat tipis sekitar 0,2%.

Sejumlah bank sentral di kawasan Asia sebelumnya telah mengambil langkah berbeda: Indonesia, Filipina, dan Sri Lanka menaikkan suku bunga untuk menopang mata uang, sementara Korea Selatan menahan diri namun memberi sinyal perubahan kebijakan.

Baca Juga: Hezbollah Tolak Gencatan Senjata Lebanon, Upaya Damai Trump Terancam Gagal