Bank Sentral Inggris Tahan Suku Bunga, Lebih Banyak Pembuat Kebijakan Dukung Kenaikan



KONTAN.CO.ID - Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75% dalam rapat kebijakan moneter pada Kamis (30/7/2026).

Meski demikian, jumlah pembuat kebijakan yang mendukung kenaikan suku bunga bertambah di tengah meningkatnya risiko inflasi akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga: Chelsea Resmi Rekrut Maxence Lacroix dari Crystal Palace hingga 2032


Melansir Reutes, Komite Kebijakan Moneter (Monetary Policy Committee/MPC) BoE memutuskan, mempertahankan suku bunga dengan hasil pemungutan suara 6-3.

Hasil ini berbeda dari perkiraan ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan komposisi suara 7-2.

Anggota MPC Catherine Mann bergabung dengan Megan Greene dan Kepala Ekonom BoE Huw Pill dalam mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4%.

Sementara itu, enam anggota lainnya tetap memilih mempertahankan suku bunga, sejalan dengan pendekatan "wait and see" yang diusung Gubernur BoE Andrew Bailey guna memastikan inflasi tidak melampaui target 2% secara berlebihan.

"Mempertahankan suku bunga adalah langkah yang tepat karena kondisi global terlihat semakin tidak pasti dan berpotensi mendorong inflasi, sementara kondisi domestik secara keseluruhan masih relatif mendukung prospek inflasi," kata Bailey.

Usai pengumuman tersebut, nilai tukar pound sterling sedikit melemah terhadap dolar AS. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Inggris tenor dua tahun yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga juga turun sekitar 2 basis poin.

Ekonom Senior Schroders George Brown mengatakan, mayoritas anggota MPC masih belum melihat alasan kuat untuk meninggalkan pendekatan menunggu dan mengamati.

"Meski harga energi naik tajam, mayoritas anggota belum yakin kenaikan tersebut akan memicu inflasi domestik yang lebih persisten," ujarnya.

Baca Juga: BTS Boikot Grammy 2027, Tolak Kategori Baru Musik Pop Asia

Prospek Inflasi Masih Di Atas Target

Keputusan BoE mempertahankan suku bunga menjadi kabar positif bagi Perdana Menteri Inggris Andy Burnham yang menjadikan penurunan biaya hidup sebagai salah satu prioritas pemerintahannya.

Salah satu kebijakan pemerintah, yakni penghapusan pajak atas tagihan listrik rumah tangga, diperkirakan BoE dapat menurunkan inflasi sekitar 0,1 poin persentase.

Dalam proyeksi terbarunya, BoE memperkirakan inflasi Inggris akan meningkat menjadi 3,2% pada akhir tahun ini dari 2,6% pada Juni, level terendah dalam 15 bulan.

Inflasi diperkirakan tetap berada di atas target 2% hingga awal 2028 sebelum kembali turun di bawah target tersebut.

Meski proyeksi inflasi lebih rendah dibandingkan perkiraan pada April, BoE mendasarkan proyeksinya pada asumsi bahwa pasar memperkirakan kenaikan suku bunga kembali terjadi pada kuartal IV-2026 dan sekali lagi pada 2027.

Pandangan tersebut berbeda dengan mayoritas ekonom dalam survei Reuters yang menilai BoE kemungkinan tidak perlu lagi menaikkan suku bunga.

Baca Juga: China Andalkan Belanja Infrastruktur untuk Topang Ekonomi, Bukan Stimulus Jumbo

Konflik Timur Tengah Ubah Sikap Pembuat Kebijakan

Catherine Mann mengatakan, meluasnya konflik di Timur Tengah menjadi alasan utama dirinya mengubah pandangan dan mendukung kenaikan suku bunga.

Menurutnya, gagalnya gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran serta meluasnya konflik meningkatkan risiko inflasi yang perlu diantisipasi.

Sementara itu, anggota MPC yang mendukung kenaikan suku bunga menilai inflasi yang telah berada di atas target BoE selama hampir lima tahun terakhir berpotensi memicu efek lanjutan terhadap kenaikan upah dan harga.

Sebaliknya, anggota lain belum melihat bukti bahwa risiko tersebut mulai terjadi. Mereka lebih menyoroti pelemahan pasar tenaga kerja, di mana pertumbuhan upah sektor swasta kini menjadi yang paling lambat sejak 2020.

Wakil Gubernur BoE Clare Lombardelli mengatakan belum munculnya efek lanjutan terhadap inflasi memang menjadi sinyal positif, namun belum cukup untuk menyimpulkan bahwa risiko tersebut telah hilang.

Baca Juga: AFC Kecam FIFA, Tolak Rencana Penjualan Kepemilikan Piala Dunia ke Investor Swasta

Di sisi lain, BoE juga merevisi penilaiannya terhadap dampak program pengurangan kepemilikan obligasi (quantitative tightening).

Bank sentral memperkirakan program tersebut telah menaikkan imbal hasil obligasi pemerintah Inggris sebesar 0,2–0,3 poin persentase sejak 2022, lebih tinggi dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar 0,15–0,25 poin persentase.

Penilaian itu muncul menjelang rapat MPC pada September yang akan menentukan laju pengurangan kepemilikan obligasi.

Pada 2025, BoE telah memperlambat laju pengurangan portofolio obligasinya menjadi 70 miliar pound sterling per tahun dari sebelumnya 100 miliar pound sterling.

Survei BoE menunjukkan pelaku pasar memperkirakan laju tersebut akan kembali diperlambat menjadi 50 miliar pound sterling per tahun pada September mendatang.