SEOUL. Korea Selatan berencana untuk mengajukan 20 triliun won atau setara dengan US$ 15 juta dari bank sentral dan para pemilik modal. Dana ini digunakan untuk mendorong modal perbankan seiring dengan ancaman perekonomian yang menambal biaya pinjaman yang semakin membengkak. Pemerintah Korsel memang berencana untuk menyediakan sejumlah dana di bulan Januari untuk membeli preferred dan obligasi yang ada di tangan para pemberi pinjaman. Hal ini ditegaskan oleh Financial Services Commission melalui surat elektroniknya pagi ini. Bank sentral kemungkinan menyediakan separo dari dana tersebut, di mana dana itu akan diinvestasikan di sejumlah perbankan yang membutuhkan suntikan dana segar. Dana ini diharapkan akan menjadi pintu masuk bagi perbankan di Korsel untuk menguatkan permodalannya seiring dengan perekonomian yang semakin mendekati resesi pertamanya sepanjang satu dekade ini. Kookmin Bank, bank pelat merah terbesar dan sejumlah bank lainnya mendapat tekanan dari pemerintah agar menaikkan pinjaman di tengah krisis kredit global ini. Padahal, mereka sendiri juga punya kebutuhan lain untuk menyeimbangkan neraca keuangannya. “Aksi pemerintah ini sungguh-sungguh akan memberi bantalan bagi perbankan,” kata Mo Jae Sung, dari Hanwha Investment Trust Management Co. di Seoul. Menurutnya, tak ada yang tahu seberapa besar yang mereka butuhkan, soalnya tidak ada yang bisa menebak bagaimana aset perbankan ini akan terus memburuk. Bank of Korea akan memutuskan gerojokan dana sebesar 10 triliun won ini pada pertemuannya. FSC mengatakan bahwa Korea Development Bank juga akan menyediakan 2 triliun won, dan sisanya sebesar 8 triliun won dikerahkan dari para pemilik modal, baik personal maupun lembaga.
Bank Sentral Korea Bakal Gerojokkan 20 Triliun Won untuk Perbankan
SEOUL. Korea Selatan berencana untuk mengajukan 20 triliun won atau setara dengan US$ 15 juta dari bank sentral dan para pemilik modal. Dana ini digunakan untuk mendorong modal perbankan seiring dengan ancaman perekonomian yang menambal biaya pinjaman yang semakin membengkak. Pemerintah Korsel memang berencana untuk menyediakan sejumlah dana di bulan Januari untuk membeli preferred dan obligasi yang ada di tangan para pemberi pinjaman. Hal ini ditegaskan oleh Financial Services Commission melalui surat elektroniknya pagi ini. Bank sentral kemungkinan menyediakan separo dari dana tersebut, di mana dana itu akan diinvestasikan di sejumlah perbankan yang membutuhkan suntikan dana segar. Dana ini diharapkan akan menjadi pintu masuk bagi perbankan di Korsel untuk menguatkan permodalannya seiring dengan perekonomian yang semakin mendekati resesi pertamanya sepanjang satu dekade ini. Kookmin Bank, bank pelat merah terbesar dan sejumlah bank lainnya mendapat tekanan dari pemerintah agar menaikkan pinjaman di tengah krisis kredit global ini. Padahal, mereka sendiri juga punya kebutuhan lain untuk menyeimbangkan neraca keuangannya. “Aksi pemerintah ini sungguh-sungguh akan memberi bantalan bagi perbankan,” kata Mo Jae Sung, dari Hanwha Investment Trust Management Co. di Seoul. Menurutnya, tak ada yang tahu seberapa besar yang mereka butuhkan, soalnya tidak ada yang bisa menebak bagaimana aset perbankan ini akan terus memburuk. Bank of Korea akan memutuskan gerojokan dana sebesar 10 triliun won ini pada pertemuannya. FSC mengatakan bahwa Korea Development Bank juga akan menyediakan 2 triliun won, dan sisanya sebesar 8 triliun won dikerahkan dari para pemilik modal, baik personal maupun lembaga.