Bank Sentral Korea Selatan Tahan Suku Bunga, Waspadai Inflasi akibat Perang Iran



KONTAN.CO.ID - Bank sentral Korea Selatan memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya di level 2,50% pada Jumat (10/4/2026), di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah yang berpotensi menekan pertumbuhan dan memicu inflasi.

Melansir Reuters dalam pernyataannya, Bank of Korea (BOK) menyoroti risiko lonjakan inflasi yang dipicu kenaikan harga minyak serta perlambatan ekonomi.

“Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan berada di bawah proyeksi Februari sebesar 2,0%,” ujar BOK.


Baca Juga: Baht Thailand Paling Lemah di Tengah Pergerakan Campuran Mata Uang Asia Jumat (10/4)

Prospek ke depan dinilai sangat bergantung pada perkembangan konflik Iran, siklus industri semikonduktor, serta faktor eksternal lainnya.

BOK juga memperkirakan inflasi akan “melampaui secara signifikan” proyeksi sebelumnya sebesar 2,2%, seiring kenaikan harga energi dan pelemahan won yang meningkatkan biaya impor barang-barang penting.

Keputusan ini sejalan dengan ekspektasi pasar, di mana seluruh ekonom dalam survei Reuters memperkirakan suku bunga akan tetap ditahan.

Di pasar keuangan, kontrak berjangka obligasi pemerintah Korea tenor 3 tahun menguat setelah pengumuman kebijakan, mencerminkan ekspektasi pelaku pasar bahwa suku bunga tidak akan berubah dalam waktu dekat.

Analis menilai ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter semakin terbatas, mengingat tekanan inflasi yang kembali meningkat akibat lonjakan harga energi.

Di sisi lain, bank sentral juga berhati-hati untuk tidak memperketat kebijakan terlalu cepat sebelum memastikan kekuatan permintaan domestik.

Dari sisi fiskal, Presiden Lee Jae Myung mendorong tambahan anggaran sebesar 26,2 triliun won (sekitar US$17,7 miliar) untuk membantu rumah tangga dan pelaku usaha menghadapi lonjakan biaya energi, setelah harga minyak Dubai melonjak tajam pada Maret.

Baca Juga: Inflasi Grosir Jepang Melonjak pada Maret 2026, BOJ Waspadai Risiko Stagflasi

Mayoritas ekonom memperkirakan suku bunga Korea Selatan akan tetap stabil hingga 2026, meskipun sebagian kecil memproyeksikan kenaikan moderat hingga 2,75% atau bahkan 3,00% pada akhir periode.

Analis Shinyoung Securities Cho Yong-gu menilai, risiko penurunan pertumbuhan memang meningkat akibat konflik Timur Tengah.

Namun, kinerja ekspor yang masih solid serta rencana stimulus fiskal dinilai mampu menjaga momentum ekonomi.

Gubernur BOK Rhee Chang-yong dijadwalkan memberikan konferensi pers setelah keputusan ini. Ini menjadi konferensi terakhirnya sebelum masa jabatannya berakhir pada 20 April, dengan ekonom Shin Hyun-song disebut akan menggantikan posisinya.