KONTAN.CO.ID - KUALA LUMPUR. Bank sentral Malaysia mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil untuk kedelapan kalinya secara berturut-turut dalam pertemuan kebijakan pada hari Kamis (5/11/2026). Kebijakan ini dilakukan di tengah tingkat inflasi yang moderat dan pertumbuhan ekonomi yang kuat—yang diperkirakan akan tetap tangguh tahun depan. Bank Negara Malaysia (BNM) mempertahankan suku bunga kebijakan semalam (
overnight policy rate) di angka 2,75%, sesuai dengan prakiraan mayoritas dari 29 ekonom yang disurvei oleh Reuters. Terakhir kali bank sentral Malaysia memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin adalah pada Juli 2025.
Baca Juga: Bidik Pasar Obesitas, AstraZeneca Siapkan Akuisisi Rhythm Pharmaceuticals "Fundamental ekonomi yang kuat diperkirakan akan menjaga pertumbuhan tetap tangguh pada tahun 2027," ungkap bank sentral dalam sebuah pernyataan. BNM menambahkan bahwa sektor eksternal diperkirakan akan tetap menjadi penggerak utama, didukung oleh momentum teknologi global dan kuatnya pengeluaran wisatawan. Namun, bank sentral mencatat bahwa prospek pertumbuhan masih menghadapi risiko penurunan (
downside risks) akibat konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah serta penurunan produksi komoditas. Ekonomi Malaysia telah diuntungkan oleh lonjakan kecerdasan buatan (
artificial intelligence) global yang memicu permintaan terhadap produk teknologi dan semikonduktor buatan negara tersebut. Bulan lalu, pemerintah Malaysia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2026, untuk kedua kalinya tahun ini, dengan ekspektasi pertumbuhan yang kini diperkirakan mendekati batas atas kisaran 4,8% hingga 5,3%. Untuk tahun depan, pertumbuhan ekonomi Malaysia diperkirakan berada di kisaran 4,2% hingga 5,2%. BNM menyatakan bahwa inflasi umum (
headline inflation) dan inflasi inti masing-masing mencatat rata-rata 1,8% dan 1,9% sepanjang tahun berjalan. Tingkat inflasi ini terkendali, antara lain berkat subsidi pemerintah dan berbagai bentuk bantuan lainnya. Untuk tahun depan, BNM menyebutkan bahwa perkembangan geopolitik, kenaikan harga komoditas global, dan cuaca buruk dapat mendorong inflasi lebih tinggi. Malaysia diperkirakan akan menghabiskan sekitar 40 miliar ringgit (US$ 9,89 miliar) untuk subsidi bahan bakar tahun ini, menyusul kenaikan biaya energi global. Nilai tukar ringgit tidak berubah terhadap dolar setelah pengumuman keputusan suku bunga, dengan tetap mempertahankan kenaikan sebesar 0,3%.
Baca Juga: Siemens Healthineers Mulai Pisahkan Bisnis Diagnostik untuk Divestasi BNM menyatakan bahwa kebijakan moneternya sejalan dengan prospek stabilitas harga yang berkelanjutan serta pertumbuhan ekonomi yang stabil. BNM menambahkan akan terus memantau perkembangan kondisi yang ada dan menilai dampaknya terhadap inflasi serta pertumbuhan ekonomi domestik. Ekonom senior OCBC Lavanya Venkateswaran berpendapat bahwa peluang untuk normalisasi kebijakan masih terbuka lebar. "Prospek pertumbuhan tetap kuat, sementara inflasi diperkirakan akan meningkat hingga tahun 2027, meskipun dalam tingkat yang moderat. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, kami tetap pada pandangan kami sebelumnya mengenai kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Januari 2027," ujarnya melalui surel.