KONTAN.CO.ID - Bank sentral Selandia Baru mempertahankan suku bunga acuannya pada Rabu (18/2/2026), sesuai ekspektasi pasar dan menegaskan kebijakan moneter perlu tetap akomodatif untuk beberapa waktu guna menopang pemulihan ekonomi. Dalam pertemuan pertamanya yang dipimpin Gubernur Anna Breman, RBNZ mempertahankan
official cash rate (OCR) di 2,25%. Namun, bank sentral memajukan proyeksi kenaikan suku bunga pertama menjadi akhir tahun ini atau awal tahun depan.
Baca Juga: YouTube Akui Gangguan Akses Global, Ribuan Pengguna Terdampak “Jika ekonomi berkembang sesuai perkiraan, kebijakan moneter kemungkinan akan tetap akomodatif untuk beberapa waktu,” ujar RBNZ. Seiring pemulihan menguat dan inflasi bergerak menuju titik tengah target, kebijakan akan dinormalisasi secara bertahap. Kiwi Melemah, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Disesuaikan Dolar Selandia Baru (kiwi) turun 0,5% ke US$0,6022. Suku bunga swap dua tahun, acuan penting bagi penetapan bunga kredit perumahan turun 3 basis poin ke 2,9786%, terendah sejak 19 Januari. Pasar memangkas peluang kenaikan suku bunga pada September menjadi 53% dari hampir 70% sebelum keputusan.
Baca Juga: Rupiah Melemah 0,21%, Jadi Mata Uang Asia Terburuk Rabu (18/2) Pagi Ini Sementara itu, peluang kenaikan pada Oktober kini diperkirakan 84%, dari sebelumnya sudah sepenuhnya diperhitungkan pasar. Proyeksi jalur OCR terbaru menunjukkan suku bunga diperkirakan berada di 2,38% pada akhir tahun, mengindikasikan adanya kemungkinan kenaikan. Ini jauh lebih cepat dibanding proyeksi November lalu yang menempatkan peluang kenaikan pada pertengahan 2027. Ekonomi Masih Hadapi Tantangan Menurut Abhijit Surya dari Capital Economics, ekonomi Selandia Baru masih menghadapi hambatan berupa lemahnya aktivitas pasar perumahan dan belanja pemerintah yang lesu.
Baca Juga: YouTube Down, Pengguna Tak Bisa Akses Bank sentral memperkirakan kesenjangan output negatif baru akan tertutup pada akhir 2028. Namun, risalah rapat menunjukkan salah satu anggota dewan menilai stimulus moneter dapat dikurangi lebih cepat jika pemulihan berjalan sesuai harapan. Fokus pada Kredibilitas Inflasi RBNZ sebelumnya menjadi salah satu pelopor global dalam menarik stimulus era pandemi, dengan menaikkan suku bunga total 525 basis poin antara Oktober 2021 hingga September 2023 guna menekan inflasi. Sejak itu, bank telah memangkas suku bunga sebesar 325 basis poin untuk membantu ekonomi keluar dari resesi. Ekonom kepala ANZ Sharon Zollner menilai, Breman perlu menyeimbangkan antara menegaskan komitmen pengendalian inflasi dan tidak mengejutkan pasar dengan sikap terlalu hawkish.
Baca Juga: Dolar Bertahan Menguat Rabu (18/2), Cermati Perundingan Damai dan Risalah The Fed Ekonomi Selandia Baru kembali tumbuh pada kuartal ketiga setelah periode kontraksi panjang.
Namun, tingkat pengangguran mencapai level tertinggi dalam satu dekade di 5,4%, dan pasar property terutama di Auckland dan Wellington masih lebih dari 20% di bawah puncaknya pada akhir 2021. Secara keseluruhan, RBNZ memberi sinyal bahwa kebijakan longgar masih diperlukan, tetapi ruang untuk normalisasi mulai terbuka lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.