Bank Sentral Selandia Baru: Sistem Keuangan Tetap Tangguh di Tengah Risiko Global



KONTAN.CO.ID - WELLINGTON. Bank sentral Selandia Baru menyatakan sistem keuangan negara tersebut tetap tangguh meski risiko global meningkat, terutama akibat konflik di Timur Tengah.

Gubernur Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) Anna Breman mengatakan, sektor keuangan saat ini berada dalam posisi yang kuat untuk menopang rumah tangga dan dunia usaha, bahkan jika kondisi ekonomi melemah.

Baca Juga: AS Desak Resolusi Selat Hormuz Jadi Ujian bagi PBB, Minta China dan Rusia Tak Veto


“Sistem keuangan kami berada dalam posisi yang baik untuk mendukung rumah tangga dan bisnis, termasuk jika pertumbuhan ekonomi melambat,” ujarnya dalam pernyataan usai rilis Financial Stability Report dilansir Reuters Rabu (6/5/2026).

Namun demikian, RBNZ memperingatkan bahwa konflik global yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko terhadap stabilitas keuangan.

Dampaknya juga mulai terasa pada perekonomian domestik Selandia Baru.

“Pemulihan ekonomi yang sebelumnya mulai terlihat kini berpotensi melambat, yang dapat memengaruhi pertumbuhan lapangan kerja dan kemampuan pembayaran utang,” jelas Breman.

Baca Juga: Aktivitas Jasa China Menguat di April, Namun Permintaan Ekspor Masih Melemah

Perbankan Dinilai Solid

Dalam laporannya, RBNZ menegaskan bahwa sektor perbankan memiliki permodalan dan likuiditas yang kuat.

Hal ini memungkinkan bank untuk tetap mendukung nasabah yang terdampak tekanan ekonomi, sekaligus menghadapi potensi gangguan pada pasar pendanaan global.

Hasil uji ketahanan (stress test) juga menunjukkan bahwa bank-bank di Selandia Baru mampu menghadapi guncangan ekonomi yang signifikan.

Baca Juga: Inflasi Korsel Dekati Level Tertinggi 2 Tahun, Peluang Kenaikan Suku Bunga Menguat

Risiko Baru: Digitalisasi dan Siber

Di sisi lain, bank sentral menyoroti meningkatnya risiko baru seiring digitalisasi sektor keuangan dan meningkatnya ketegangan geopolitik.

Ancaman serangan siber dan gangguan sistem dinilai semakin besar, sehingga menjadi perhatian utama regulator.

RBNZ juga mengungkapkan tengah memantau potensi risiko dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), termasuk model “Mythos” yang dikembangkan oleh perusahaan Anthropic, terhadap sistem keuangan dan lembaga yang diawasi.

Baca Juga: Rekor! Samsung Jadi Perusahaan Asia Kedua dengan Kapitalisasi Pasar US$ 1 Triliun

Untuk mengantisipasi hal tersebut, bank sentral bekerja sama dengan lembaga domestik serta mitra lintas negara, termasuk otoritas di kawasan Trans-Tasman, guna menyelaraskan penilaian risiko dan respons kebijakan.

Sebagai informasi, RBNZ merilis laporan stabilitas keuangan dua kali dalam setahun sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan sistem keuangan nasional.