Bank Sentral Singapura Kejutkan Pasar dengan Pengetatan Kebijakan demi Redam Inflasi



KONTAN.CO.ID - Bank sentral Singapura, Monetary Authority of Singapore (MAS) secara mengejutkan kembali memperketat kebijakan moneternya pada Senin (27/7/2026).

Langkah ini diambil karena otoritas moneter menilai tekanan inflasi masih berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Baca Juga: Gencatan Senjata Sementara AS-Iran Tekan Dolar Senin (27/7), Pasar Kembali Optimistis


MAS mengumumkan akan sedikit meningkatkan laju apresiasi dari kebijakan nilai tukar berbasis Singapore dollar nominal effective exchange rate (S$NEER).

Namun, MAS tidak mengubah lebar maupun titik tengah (mid-point) dari koridor kebijakan tersebut.

Keputusan tersebut berada di luar ekspektasi mayoritas analis.

Dalam jajak pendapat Reuters terhadap 16 ekonom sebelum rapat kebijakan, sebanyak 12 analis memperkirakan MAS akan mempertahankan kebijakan yang ada, sementara hanya empat analis yang memprediksi adanya pengetatan.

Baca Juga: Nvidia Gencar Ekspansi Data Center, Bakal Beli Saham Baru Naver Korea Selatan

MAS menyatakan, inflasi inti diperkirakan mulai meningkat pada Juli dan tetap berada pada level yang relatif tinggi sebelum menunjukkan perlambatan yang lebih jelas sekitar pertengahan 2027.

"Inflasi inti diproyeksikan meningkat mulai Juli dan tetap tinggi, namun diperkirakan akan melambat secara nyata mulai sekitar pertengahan 2027," tulis MAS dalam pernyataannya.

Ini merupakan pengetatan kebijakan moneter kedua secara beruntun setelah MAS juga memperketat kebijakan pada pertemuan April lalu.

Meski demikian, MAS menegaskan bahwa kenaikan laju apresiasi S$NEER kali ini lebih kecil dibandingkan langkah yang diambil pada April.

Data terbaru menunjukkan inflasi inti tahunan Singapura pada Juni tercatat sebesar 1,6% secara tahunan (year on year/YoY), lebih rendah dari perkiraan pasar.

Di sisi lain, perekonomian Singapura masih menunjukkan ketahanan yang kuat.

Baca Juga: PM Jepang Sanae Tidur 0-3 Jam Sehari, Berapa Lama Tidur yang Baik untuk Kesehatan?

Data awal memperlihatkan produk domestik bruto (PDB) Singapura tumbuh 5,7% pada kuartal II-2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, lebih tinggi dari ekspektasi ekonom.

Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kuat dan potensi kenaikan inflasi menjadi alasan utama MAS tetap memilih sikap hawkish meski inflasi saat ini relatif terkendali.