KONTAN.CO.ID - Bank sentral Singapura, Monetary Authority of Singapore (MAS), mempertahankan kebijakan moneternya pada Rabu (14/10/2026). Keputusan ini mengejutkan pasar karena seluruh 10 analis yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan MAS akan kembali memperketat kebijakan moneter di tengah pertumbuhan ekonomi yang kuat dan risiko inflasi. Dalam pernyataannya, MAS memperkirakan ekonomi Singapura masih akan tumbuh kuat dalam beberapa kuartal mendatang.
Baca Juga: Harga Emas Spot Bertahan di US$ 4.161 per Ons Rabu (14/10) Jelang Data CPI AS Namun, pertumbuhan diperkirakan melambat setelah siklus investasi kecerdasan buatan (AI) mereda dari laju yang luar biasa dan kondisi keuangan global semakin ketat. MAS juga memperkirakan inflasi inti akan melandai lebih nyata mulai pertengahan 2027. Perlambatan inflasi diperkirakan terjadi seiring meredanya tekanan inflasi impor yang dipicu kendala pasokan, sementara biaya domestik tetap terkendali. Ekonom OCBC Selena Ling mengaku terkejut dengan keputusan tersebut. Menurut dia, keputusan mempertahankan kebijakan moneter kemungkinan diambil setelah pertimbangan yang ketat. Ling menilai proyeksi inflasi inti menjadi faktor penting dalam keputusan MAS. Meski inflasi diperkirakan masih sedikit tinggi dalam beberapa kuartal mendatang, tekanan harga diproyeksikan mereda lebih jelas mulai pertengahan 2027. MAS mempertahankan laju apresiasi dolar Singapura dalam kerangka kebijakan nilai tukar yang dikenal sebagai Singapore dollar nominal effective exchange rate (S$NEER). Bank sentral juga tidak mengubah lebar pita kebijakan maupun titik tengahnya.
Baca Juga: Buntut Konflik Musk-Ambani, Starlink Terancam Diblokir di India Melalui kebijakan tersebut, MAS memungkinkan dolar Singapura terus menguat untuk meredam kenaikan inflasi impor dalam jangka pendek. Langkah ini diharapkan membantu menurunkan tekanan inflasi secara bertahap pada 2027. Setelah pengumuman tersebut, dolar Singapura relatif stabil di level 1,2802 per dollar AS. Inflasi Diproyeksikan Melandai Keputusan mempertahankan kebijakan moneter ini berbeda dari langkah MAS pada Juli lalu, ketika bank sentral memperketat kebijakan dalam skala yang disebut sangat tipis. Pengetatan serupa sebelumnya juga dilakukan pada April 2026. Data awal pemerintah yang dirilis pada Rabu menunjukkan ekonomi Singapura tumbuh 5,4% pada kuartal III-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, inflasi inti pada Agustus tercatat sebesar 2,2%.
Baca Juga: F1 Umumkan Grand Prix Rwanda, Amnesty International Soroti Pelanggaran HAM MAS mempersempit proyeksi inflasi inti menjadi 1,5%-2% dari sebelumnya 1,5%-2,5%. Proyeksi inflasi utama juga ditetapkan sebesar 2%, lebih rendah dibandingkan rentang sebelumnya yang mencapai 1,5%-2,5%. Ekonom Maybank Chua Hak Bin menilai kenaikan suku bunga dan kondisi pasar tenaga kerja yang menunjukkan perbedaan perkembangan antarkelompok pekerja akan membantu menahan tekanan biaya upah. Meski demikian, arah kebijakan MAS selanjutnya masih terbuka. Chua mengatakan keputusan pengetatan lebih lanjut akan bergantung pada perkembangan harga energi dan keberlanjutan lonjakan investasi yang didorong AI. Pada Agustus, Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 4,5%-5,5%, dari sebelumnya 2%-4%.
Pemerintah menilai dampak perang di Timur Tengah terhadap ekonomi lebih terbatas daripada perkiraan awal, sementara lonjakan investasi AI global lebih kuat dari yang diperkirakan.
Baca Juga: Konflik Arab-Houthi Memanas, Suara Ledakan Terdengar di Dekat Kantor Saudi Aramco Berbeda dengan banyak bank sentral yang menggunakan suku bunga sebagai instrumen utama, Singapura mengelola kebijakan moneter melalui nilai tukar dolar Singapura terhadap mata uang mitra dagang utamanya dalam pita perdagangan S$NEER. MAS memiliki tiga instrumen utama untuk menyesuaikan kebijakan tersebut, yakni kemiringan pita apresiasi, titik tengah, dan lebar pita kebijakan.