KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Bank of Thailand (BOT) mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan moneter Rabu (26/8/2026). Keputusan tersebut menjadi yang ketiga kalinya secara berturut-turut, seiring bank sentral menilai kebijakan moneter saat ini masih akomodatif untuk mendukung pemulihan ekonomi. Komite Kebijakan Moneter BOT secara bulat mempertahankan suku bunga repo satu hari di level 1,00%. Suku bunga tersebut telah bertahan di level itu sejak Februari 2026.
Baca Juga: Banjir Bandang Dahsyat Terjang Nepal, Desa dan Proyek Pembangkit Listrik Hanyut Keputusan ini sesuai dengan ekspektasi mayoritas ekonom. Dari 32 ekonom yang disurvei Reuters, hanya dua yang memperkirakan adanya perubahan suku bunga. "Ekonomi tumbuh sesuai ekspektasi, tetapi pertumbuhan masih rendah dan tidak merata," kata BOT dalam pernyataannya dilansir dari
Reuters. Bank sentral mencatat permintaan global yang kuat terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) mendorong pertumbuhan ekspor dan investasi swasta lebih tinggi dari perkiraan. Baht Thailand relatif stabil setelah keputusan tersebut, berada di sekitar 32,71 baht per dolar AS. Sebelumnya, BOT telah memangkas suku bunga sebanyak enam kali dengan total penurunan 150 basis poin sepanjang Oktober 2024 hingga Februari 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk mendorong perekonomian yang terbebani lemahnya permintaan domestik dan tingginya utang rumah tangga. Berbeda dengan Thailand, sejumlah bank sentral di Asia seperti Korea Selatan, Indonesia, dan Filipina telah menaikkan suku bunga setelah perang Iran mendorong kenaikan harga energi.
Baca Juga: Baht Stabil, Bursa Asia Menguat Jelang Keputusan Suku Bunga dan Kinerja Nvidia "Komite menilai suku bunga kebijakan saat ini sudah tepat untuk mendukung pemulihan ekonomi," ujar BOT. BOT juga menyatakan prospek pertumbuhan ekonomi Thailand pada 2026 dan 2027 secara umum masih sesuai dengan penilaian sebelumnya. Pada pertemuan Juni, BOT menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Thailand 2026 menjadi 2,3%. Bank sentral juga memperkirakan pertumbuhan ekspor sebesar 14% dan inflasi utama sebesar 2,8%. Namun, pertumbuhan ekonomi Thailand melambat menjadi 1,9% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal II-2026, dibandingkan 2,8% pada kuartal sebelumnya. Sepanjang tahun lalu, ekonomi Thailand tumbuh 2,4%, tertinggal dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan Asia Tenggara. Prospek Inflasi Membaik Di sisi lain, BOT menilai prospek inflasi Thailand membaik. Inflasi utama pada 2026 dan 2027 diproyeksikan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, terutama karena harga energi global mulai mereda. Inflasi utama Thailand melambat menjadi 1,95% pada Juli 2026 dan masih berada dalam kisaran target BOT sebesar 1%-3%.
Baca Juga: Manchester United Rekrut Carlos Baleba dari Brighton, Dikontrak hingga 2031 Meski demikian, BOT memperkirakan inflasi akan meningkat hingga kuartal I-2027 akibat dampak pola cuaca El Nino. Setelah itu, tekanan inflasi diperkirakan kembali mereda. Pertemuan kebijakan moneter BOT berikutnya dijadwalkan pada 28 Oktober 2026. Pada pertemuan tersebut, bank sentral akan memperbarui proyeksi ekonomi. "Kedepannya, kami melihat komite akan mempertahankan suku bunga berdasarkan data inflasi yang lebih rendah," kata Kobsidthi Silpachai, Head of Capital Markets Research Kasikornbank.